Senin, 29 Agustus 2011

A Night Before Ied

Bisa dibilang, malam ini malam takbiran, meski keputusan pemerintah tentang 1 Syawal jatuh di tanggal 31 Agustus (lusa). Tapi ibu ikut keputusan Muhammadyah, yang berlebaran tanggal 30 Agustus (besok), jadi mungkin gue akan ikut juga...

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tiap malam takbiran gue pasti selalu review kenangan-kenangan gue waktu ayah dan ibu masih sama-sama. Kinda wonderful memories. But I don't wanna get that back. Itu masa lalu, dan mungkin takdir telah menggariskannya hanya sebagai masa lalu, bukan masa lalu yang akan terulang lagi...

Saat-saat itu sangat menyenangkan. Gue pasti nggak akan bisa tidur sampai larut malam karna terlalu senang. Bahkan sampai sekarang pun, gue sering nggak bisa tidur kalau besoknya gue ada event tertentu atau acara yang 'penting' buat gue...
Pas malam takbiran, ibu pasti selalu bikin kue. Biasanya kue bolu dan brownies. Soalnya ayah sukaaa banget sama browniesnya ibu. Gue juga. Dan yang pasti, gue selalu berebut sama ayah soal brownies karena takut kehabisan. Bagi gue, itu adalah saat-saat sederhana namun berkesan. Saat itu, gue merasa hidup gue sangat sempurna. Dan saat itu, tentu saja, gue mengira ayah dan ibu saling mencintai. Mungkin ibu juga berfikir begitu...

Sampai beberapa tahun setelah berpisah, gue masih nggak ngerti kenapa ayah bisa menjalani hidup berumah tangga selama 9 tahun dengan ibu dan terlihat mencintai ibu padahal sesungguhnya nggak begitu. Gue nggak ngerti kenapa ayah pernah merasa cemburu, tapi di sisi lain sebenarnya ayah nggak mencintai ibu. Dan yang paling nggak habis fikir, bisa ada tiga anak tapi tanpa cinta???

Semula gue emang nggak bisa mengerti. Dan gue juga nggak bisa paham ketika ibu berkoar-koar di depan gue tentang perselingkuhan ayah dengan perempuan lain. Ibu berusaha membuat gue membenci perempuan itu, dan mengerti gimana rasa sakitnya dikhianati. Tapi saat itu gue masih belum ngerti apa-apa. Kalo ibu suruh gue maki-maki perempuan itu ya gue maki-maki, kalo ibu suruh gue marah-marah sama ayah ya gue marah-marah. Tapi tanpa rasa yang jelas...

Sampai bertahun-tahun setelah itu, gue merasa ibu yang jahat. Ibu selalu maksa gue untuk nyampein amarahnya ke ayah dan membuat itu seolah-olah dari gue. Padahal gue nggak mau begitu. Yang selalu gue harapkan adalah ibu dan ayah kembali sama-sama, nggak peduli siapa yang salah. Saat itu gue merasa mereka egois, karna tega ngorbanin perasaan anak-anak demi ego dan emosi masing-masing. Gue bahkan sempat menyalahkan ibu karna ibu nggak bisa ngorbanin perasaannya demi anak-anaknya...

Sekarang, gue merasa bersalah banget pernah nganggap ibu seperti itu. Yaaa... saat itu gue belum ngerti gimana sakitnya dikhianati. Tapi sekarang gue udah mengerti. Tuhan telah menulis skenario ini. Skenario yang semula gue anggap sangat pahit, tapi ternyata mengandung banyak pelajaran untuk gue...

Tuhan menulis skenario yang sama dalam hidup gue seperti yang telah Ia tulis dalam hidup ibu. Dulu waktu ibu dan ayah menikah, mereka nggak saling mencintai. Sampai akhirnya, ibu berusaha mencintai ayah, karna memang udah jadi kewajibannya. Disaat ibu udah mencintai ayah dan udah memberikan SEGALANYA untuk ayah dan keluarga, ayah selingkuh dengan perempuan lain. Dan sepertinya, selama pernikahan mereka pun, ayah nggak pernah sungguh-sungguh mencintai ibu...

Hal itu juga yang terjadi dalam hidup gue. Waktu awal pacaran, gue nggak ada rasa apa-apa sama pacar gue. Hingga akhirnya lama-lama gue menyayangi dia. Dia pacar pertama gue, dan saat itu gue bener-bener ngerasa kalau dia adalah cowok yang sempurna dan sangat gue inginkan. Gue ngerasa sangat beruntung bisa memiliki dia. Gue percaya total sama dia dan seperti 'tergila-gila' sama dia. Gue memberi seluruh hati gue untuk dia tanpa ada rasa waspada kalau suatu saat dia bisa aja melukai gue. Dan ajaibnya, sikap dia ke gue juga sangat meyakinkan kalau dia emang sayang sama gue dan nggak ada perempuan lain di hatinya...

Lalu segalanya terbongkar. Setelah sepuluh bulan pacaran, akhirnya gue tau kalau selama sepuluh bulan itu pula dia masih mengharapkan mantannya. Semua sikap dia ke gue selama itu ternyata palsu. Di belakang gue, ternyata dia masih berharap untuk balikan lagi sama mantannya. Dia masih manggil mantannya dengan panggilan sayang waktu mereka masih pacaran, dan mantannya pun juga masih mengharapkan dia. Tapi sepertinya romansa mereka nggak bisa berlanjut karena pacar gue udah punya gue. Akhirnya mereka cuma bisa bermain di belakang gue...

Gue tau tentang itu semua beberapa hari sebelum gue tes SNMPTN. Gue bener-bener hancur, dan ngerasa udah jadi perempuan paling tolol di dunia. Gue ngerasa seperti udah nggak punya harga diri karna gue terlalu malu dengan diri gue sendiri yang bisa-bisanya dibodohi cowok itu. Gue frustasi. Sangat! Gue nggak habis fikir dia tega ngelakuin hal itu ke gue. Dia seringkali bilang gue polos. Awalnya gue fikir, dia akan menjaga gue karna sadar gue ini masih terlalu polos dan naif. Tapi ternyata, dia malah memanfaatkan kepolosan gue untuk ngebohongin dan khianatin gue...

Ajaibnya, gue masih mau aja kasih dia kesempatan kedua. Tapi, tanpa sedikitpun rasa percaya. Gue udah nggak bisa percaya lagi dan gue sangat sangat trauma. Sejak saat itu, tiap dia bersikap baik dan perhatian sama gue, hati gue dengan sendirinya menolak dan bilang: 'Jangan percaya. Bisa jadi ini cuma pura-pura lagi. Bisa jadi hati dia masih untuk orang lain!'
Selalu seperti itu, tanpa bisa gue cegah. Dia selalu marah karna gue nggak bisa percaya dia lagi dan ngerasa kalau trauma gue berlebihan. Gue nggak ngerti, sebenernya siapa yang salah? Dia yang ngebuat gue trauma, lalu dia juga yang marah kalau trauma itu nggak bisa hilang???

Sekarang gue mengerti apa yang dirasain ibu dulu. Gue paham kalau ibu sedemikian kecewa sama ayah dan sedemikian membenci perempuan itu. Gue yakin trauma ibu juga belum hilang dan mungkin nggak akan pernah bisa hilang. Dan gue kagum banget karna ibu masih bisa bertahan (nggak jadi gila atau bunuh diri). Kalau gue ada di posisi ibu, mungkin gue nggak bisa setegar itu. Paling nggak, mungkin gue bakal bunuh perempuan laknat itu. Sekarang aja, gue benci banget sama mantannya pacar gue itu dan berharap dia cepet mati. Hahahaaa...

Satu hal yang masih jadi tanda tanya buat gue. Orang-orang selalu bilang, bahwa setiap kita kehilangan sesuatu yang kita sayangi, suatu saat Tuhan pasti akan mengirimkan pengganti yang jauh lebih baik darinya. Tapi kenapa ibu nggak dapetin pengganti itu ya? Atau mungkin, pengganti itu nggak baik untuk gue dan adek-adek, makanya nggak dikasih sekarang?
Ah kalaupun ada, rasanya gue juga nggak bakal rela. Gue takut ibu bakal dikecewain lagi. Sejak saat itu gue jadi belajar, jangan pernah percaya sama laki-laki, sesempurna apapun mereka dari luar. Dari luar mungkin mereka terlihat tenang, alim, dan sempurna. Tapi dalamnya, mereka bisa lebih liar dari harimau dan lebih kejam dari algojo. Heheheee...

Untuk setiap perempuan, semoga Tuhan senantiasa memberikan pasangan yang terbaik untuk kalian. Yang menjaga kalian layaknya kalian adalah hal yang paling berharga. Dan menyayangi kalian seutuhnya tanpa ada celah sedikitpun untuk perempuan lain. Amin.

Sabtu, 09 April 2011

Selamat Jalan, Kawan...!



Kalian adalah euforia, bagian terpenting dari cerita. Sesuatu yang tak pernah ku sangka kan ada, namun ku syukuri karna kini tlah menjadi realita.

Tercipta dari fantasi, kini kalian adalah dunia yang tak ingin ku biarkan pergi. Namun apa yang telah kita lewati, tinggal sebatas memori. Di depan sana cita-cita menanti dengan sejuta misteri.

Hey kawan, kita adalah warna. Dan kita telah berbaur hingga memperindah cerita. Jangan biarkan semua ini terlupa, tempatkanlah mereka dalam dunia kisah klasik kita... :)




Note ini gue khususin buat mereka, yang udah ngewarnain 1080 hari gue selama jadi Si Putih Abu-Abu...
- Gengbell
- Paskibra SMAN 7 Bekasi, Angkatan 13
- OSIS 09/10 (Geng Pensiunan Berani Mati)
- IKOSI, Angkatan 1
- Anak-anak U.S.O (United of Science One)
- My Best Brotha         : Alfian . O. Rizal
- My Best Friend          : Erga. G. Gajanata
- My Lovely Boyfriend : Nanda. M. Yusuf
- My Best Guys            : Victor. F. Tomasoa, Reza Rizkika, Jerry Stefan, Eka. S. Handayani, Fitria. N. Hanifah,
                                      Rizky. F. Maulana, Raynaldo. E. Purba

Sabtu, 02 April 2011

Susah-Seneng di IKOSI part 1

     Hmm... sebenernya kita disuruh bikin kayak ginian sama Kak Awin, terus nanti dikirim ke e-mail IKOSI. Tapi, gue mau posting disini juga. Eh tapi yang gue posting disini beda loh sama yang nanti gue kirim... :)
     Okeee, pertama susahnya dulu yaaa. Hal-hal susah atau bikin kesel selama di IKOSI sih ga ada, yang ada tuh selama perjalanan menuju tempat acara. Tiap IKOSI bikin acara kan selalu di daerah pusat kota, sementara daerah gue kan di pinggiran Bekasi banget. Jadi yaaa... gitu deh. Perjuangan selama di jalan tuh bikin nahan hati dan pas nyampe sana, gue PASTI yang paling ngaret. Nih ya gue ceritain...
     Pas ke SMAN 9 Bekasi. Ada acara training gitu. Gue kesana sama Maya, Erga dan Abaz. Kita tuh ga tau daerahnya, cuma modal nanya-nanya ke orang di jalan. Alhasil, kita disasar-sasarin terus. Parah banget deh pokoknyaaa!!! Acaranya jam 8, tapi kita baru sampe sana jam 10! Itupun dengan muka yang udah lusuh banget, mandi keringat, dan kaki yang pegel. Awalnya, kita sempet nyerah dan mikir untuk pulang. Sampe akhirnya gue ngusulin buat naik ojek aja. Finally, sampe deh tuh kita di SMAN 9. Terus pas sampe sana, sempet disindir gitu sama anak bidang berapaaa... gitu. Tapi yaudahlah, toh udah berlalu. Pulangnya kita ga nyasar, terus sempet makan mi ayam gitu deeeh... :D
     Pas ke SMAN 10 Bekasi, tanggal 27 Juni 2010. Acaranya training bulanan juga. Gue kesana cuma berdua sama Abaz, Diky naik motor. Pas perginya sih kita ga nyasar, tapi ngaret! Acaranya jam 8, kita baru dateng jam 10. Untungnya sih belum mulai coz emang banyak yang belum dateng. Nah, pulangnya kita sempet nyasar dikit, tapi ga parah sih. Tapi yang bikin nyiksa, jauhnya itu loooh. Plus matahari yang kayaknya lagi musuhan banget sama kita sampe-sampe nafsu banget ngegosongin manusia. Ampun deh pokoknya! Terus pulangnya, kita mampir deh di Bekasi Square, beli roti di BreadTalk buat makan siang... :)
     Pas ke kantor DPRD, tanggal 3 Agustus 2010. Acara parlementaria & penyematan ID card. Gue kesana sama Dhyta dan Wiji. Nyasar lagi, meeeen...!!! Gue ga enak banget sama Dhyta & Wiji. Coz kan gue yang ngajak mereka, tapi malah bikin mereka capek + kucel gitu. Kita disasar-sasarin orang terus. Eh pas nyampe terminal, akhirnya kita mutusin jalan sampe DPRD. Capeeek banget. Tapi untungnya sampe sih. And once again, with NGARET! Hahahaaa... :D
     Pas ke UNISMA, tanggal 27 Maret 2011. Acara rapat persiapan MUBES IKOSI & silaturahmi sama anggota Komunitas IKOSI. Sebenernya ga nyasar sih, coz gue udah tau tempatnya. Tapi, pas menuju kesana, kan gue naik motor sama Dewi Tika, nah bannya itu bocor pas di depan walikota. Akhirnya kita ngedorong deh sampe ketemu tukang tambal ban. Terus pas udah bener, ga lama kemudian mesinnya mati. Ternyataaa, olinya kering. Yaudah deh kita ngedorong again sampe ketemu bengkel. Disana cuma nitip motor doang sih, coz kita ga enak sama anak-anak. Itu udah jam setengah dua belas, alias kita udah ngaret tingkat tinggi. Pas sampe sana ga diapa-apain sih, coz kan emang gara-gara hal ga terduga. Pulangnya, ga ada masalah coz gue dianter Nanda... :)

   Naaah, gitu deh beberapa cerita tentang susah selama jadi anak IKOSI. Cerita senengnya nanti aja yaa, di posting yang lain. Thanks for reading, Guys...! :)


Big hug,


Sha-bee...

Another Part of My Life

   Dear readers...


   Well, mungkin selama ini cerita-cerita yang gue posting di sini kebanyakan tentang Gengbell, ex-OSIS 09/10 (Geng Pensiunan Berani Mati), cowok gue Nanda, Kak Alfian, atau temen-temen sekelas gue. But now, gue mau cerita hal yang beda. Masih bagian dari cerita hidup gue, yakni IKOSI (Ikatan OSIS se-Kota Bekasi).
   Singkat aja yaa. Hmm... gue kepilih masuk organisasi itu tanpa diduga, dan gue masuk ke bidang 4. Gue dan anak-anak lain tuh angkatan pertamanya IKOSI. Keren kan? Heheee... *narsis dikit*
   Anggota IKOSI ada 52 orang. Tapi ga semuanya aktif siih. Kita dilantik tanggal 27 Maret 2010 di Kantor Walikota Bekasi. Terus tanggal 3 Agustus 2010 kita ada acara parlementaria sekaligus penyematan ID card di kantor DPRD Bekasi. Sumpah yah gue ga bakal lupain pas ke DPRD itu. Gue, Dhyta dan Wiji nyasar pas mau kesana. Mana nyampe sana udah telat banget plus muka yang udah gosong bin kucel. Ya iyalah, kita jalan kaki dari terminal sampe DPRD. Belom lagi nyasar-nyasarnya. Alaaah ribet!
   Itu dua acara besar IKOSI yang gue hadirin. Sebenernya masih ada acara jalan-jalan ke Curug Naga, pas awal-awal kita ngejabat, tapi sayangnya gue ga dateng, jadi ga bisa gue ceritain deh. Terus beberapa kali juga IKOSI diminta siaran di radio DAKTA sama M2, tapi gue ga dateng juga. Nanda tuh yang rajin banget dateng. Terus ada lagi acara buka puasa bersama, dan gue ga dateng juga. Hmm... ada lagi training-training gitu, tapi ga semuanya gue hadirin.
   Oya ada satu lagi, acara halal bi halal IKOSI di SMAN 3 Bekasi tanggal 3 Oktober 2010. Nah, kalo yang ini gue dateng. Dan ini juga ga bakal gue lupain. Bukan karna nyasar, tapi karna pulangnya hujan-hujanan sama Nanda. Seru bangeeeet. Ets, tapi ga cerita disini yaa. Kan ini tentang IKOSI... :D
   Saaayangnyaaa, gue baru deket sama anak-anak IKOSI tuh akhir-akhir ini, pas kita udah mau pisah. Miris banget yaa. Itupun karna gue pacaran sama Nanda, jadi seenggaknya ada yang nyuruh gue dateng ke acara IKOSI. Biasanya kan gue datengnya sama bidang gue, kalo nggak Diky, Erga, atau Abaz. Kalo mereka ga dateng ya gue males dateng! Heheee... :D
   Dari 52 anggota aja, ga semuanya gue kenal. Dan bodohnya lagi, gue baru kenal sama Wisnu tuh hari Jumat kemarin, pas kita rapat gladiresik acara Mubes II IKOSI. Konyol banget deh sumpah! :D
   And everything has begun, must be end. Semua berakhir hari ini, tanggal 2 April 2011 di Balai Pelatihan Perkerataapian Bekasi. Kita lengseeer...! Sedih bangeeet. Tadi aja Kak Fahri, Rayie & Sheha pada nangis pas nyampein LPJ dan masa jabatan kita dinyatakan selesai. Gimanaaa gitu rasanyaaa. Plis deh, kita tuh baru aja deket, tau-tau udah pisah. Mana pada jauh-jauh banget & sibuk. Kalo mau ketemu pun susaaah... :'(
   Well, mau ga mau sih harus terima kenyataan. Makasih banget yaa buat temen-temen gue Kak Fahri Gunawan Siagian, Ayu Listia Aryani, Ayu Ashari Hutagalung, Abdul Manan, Tio Prasetyo, Afriyanto Firman, Damar Agung, Nuni Puspa Syahidah, Wisnu Adi Putra, Amie Novitasari, Rosyadah, Sindhu Risanggono, Fajar Raditya, Prily Rizky Arisandi, Ahmad Irfan, Rayie Lestari, Maya, Asniarti, Diky Jasa Mulky, Indra Putra, Shinta Layla, Abdul Aziz, Erga Gilang Gajanata, Syaiful Anwar, Fikri Nurhadi, Rian, Syarif, Laylan Thowilla, plus the especially Nanda Maulana Yusuf, dan seeemuanyaaa. Maaf yaa nama lengkapnya gue tulis tanpa izin. Heheheee... :D
   Moga pertemanan kita ga berhenti sampe disini yaa. Moga akan selalu ada pertemuan selanjutnya. Sukses buat kita semuaaa. Amiiin.


Kiss & Hugs,


Shabrina...

Senin, 14 Maret 2011

BROKE part 2

Ini adalah masalah lain yang bikin hati gue makin galau. Gue berantem lagi sama “N”. Ga tau kenapa ya, kayaknya sejak 2011 ini gue sama dia gampang banget berantem. Selalu adaaa aja sebabnya. Entah itu karna hal kecil atau besar. Hubungan gue udah kayak di ambang putus. Ga tau ah, gue juga ga ngerti kenapa jadi gini. Dia udah ga kayak “N” yang gue kenal. Dan mungkin dia juga ngerasa sebaliknya. Tapi gue ga mau putus sama dia. Gue pengen hubungan gue sama dia kayak dulu lagi, adem-adem aja. Yang saling ngertiin dan bisa manja-manjaan lagi. Gue kangen dulu... :(
So, gue udah buat keputusan. Gue ngalah. Gue bakal berusaha jadi apa yang dia mau. Gue ga bakal cemburu lagi sama dia, ga ngungkit-ngungkit soal “S” lagi, ga ganggu dia kalo lagi nonton bola, ga gampang ngambek, ga manja walau gue lagi sakit, dan ga akan cerita ke siapapun saat gue dan dia lagi ada masalah. Kesimpulannya, gue bakal nahan semua emosi gue sendiri, just deep in my heart. Gue bakal berusaha untuk jadi lebih dewasa, meski sebenernya gue belum pengen coz gue masih nyaman dengan diri gue yang moody, manja, egois, childish, dan gampang ngungkapin perasaan gue. Mungkin kalo sama dia gue bakal jadi lebih pendiem, yaa... gitu deh. Kalo mau jujur sih nyesek, coz... ah ya udahlah, biarin aja. Gue ga mau bikin dia marah. Gue ga mau bikin dia capek dan jenuh. Dan yang terpenting, gue ga mau hubungan gue kayak gini terus. Gue capek nangis terus dan baca kata-katanya yang pedes pas lagi marah. Gue udah mau UN, jadi daripada buang waktu cuma untuk nangis dan sakit hati karna tiap bentar berantem, mending gue ngalah. Demi apapun ya, sebenernya gue paling benci ngalah. Gue benci “bertekuk lutut” ke cowok & ngebuat cowok ngerasa merekalah yang kuat. But finally, I have to do this. I have no choice, kalo gue mau hubungan gue selamat & masa depan gue juga selamat. Yaa... semoga aja pengorbanan ini ada hasilnya.
Lagipula kalo gue sakit dan gue pengen dimanjain, kan ada kakak gue si “R”. Gue sih berharap dia ga akan ngejauhin gue ketika dia tau kalo sampe kapanpun dia ga akan bisa dapetin hati gue lebih dari sekadar kakak atau bahkan milikin gue. Maaf ya, Kak. Padahal lo udah baik banget sama gue. Lo ngebiarin gue nangis karna lo tau itu bakal nenangin perasaan gue, lo dengan sabarnya bujuk gue supaya gue mau makan pas gue sakit waktu itu, dan lo rela dengerin curhat gue pas gue berantem sama “N” meski hal itu bikin lo jealous abis karna gue sering bilang: “walau begitu, tapi gue sayang sama dia, Kak. Gue ga mau putus...”
Maaf, Kak. Dia emang sering bikin gue nangis, jatoh, atau sakit hati. Tapi gue sayang sama dia dan gue belum bisa ngelepas dia ataupun kehilangan dia. Gue ga kayak cewek lain yang dengan gampang bilang ‘putus’ karena bagi gue, sebuah hubungan tu bukan mainan. Gue milih bertahan dan gue harus kuat. Gue emang sayang banget sama lo, sampe-sampe gue ga mau dipisahin kelasnya sama lo dan berulang kali bilang kalo gue ga mau kehilangan lo. Tapi cuma sebatas kakak aja. Maaf, gue ga bisa kasih lebih. Moga lo bisa dapet cewek yang jauh lebih baik dari gue. Tapi jangan jauhin gue yaa. Gue sayang sama lo, Kak... :)
Buat “N”, selamat ya. Akhirnya lo dapetin Shabrina yang lo mau. Tapi entah apa lo masih bisa milikin hatinya dan rasa sayangnya yang dulu atau ga. Karena ketika seseorang berubah, biasanya hatinya berubah juga kan? Tapi yaa... moga hatinya ga ikutan berubah deh. Satu hal yang perlu lo tau, dia ga suka sama sikap lo yang cuek, ga peka, SMS singkat-singkat, dan terlalu jaim. Tapi dia terima semua kekurangan lo itu kayak dia nerima segala kelebihan lo.
Dan langit, makasih karna lo udah ngehibur gue hari ini. Ya know? Hari ini gue main hujan-hujanan loooh...! Sama Riwi, Nigi, & Ratu (adek-adeknya Riwi). Puaaas banget. Sayangnya Dara ga mau ikutan. Ah ga seru tuh anak! Tapi ada benernya juga sih. Coz ntar pas ganti, dia mau pake baju siapa? Kan baju Riwi ga mungkin muat di dia! Hahahaaa...
Hmm... gitulah cerita hari ini, The ‘Galau’ Day...!


Remember this thing:
"Kalau kamu meminta seseorang yang kamu cintai untuk berubah jadi apa yang kamu inginkan, yang sebenernya terjadi adalah kamu tidak mencintainya. Tapi kamu hanya mencintai dirimu yang kamu buat sendiri di dalam diri orang itu..."

BROKE part 1

Hari ini hari Senin, tanggal 14 Maret 2011. Bagi gue, ini Senin yang galau. Pengen gue bilang Senin kelabu, tapi ga gue pungkiri ada senengnya juga. Makanya lebih tepat kalo dibilang galau...
Jadi ceritanya, hari ini anak kelas XII tuh kelasnya diacak lagi untuk sementara, berdasarkan nilai hasil try out provinsi lalu. Alasannya sih supaya lebih termotivasi belajarnya dengan susana baru. But no! Gue sebut itu alasan paling FREAK and SUCKS banget dari seorang Kepsek. Hellooo??? Penggolong-golongan?? Lo hidup di jaman batu ya?? Hari gini udah ga jaman lagi Man kayak gitu-gituan! Yang ada, yang pinter tambah pinter dan yang bego tambah bego! Please deh Pak, otak lo kayaknya perlu ditransformasi supaya agak modern dikit! *emosi tingkat tinggi*
Well, lupakan orang paling SUCKS itu. Bla bla bla, dan hasilnya gue dapet kelas XII IPA 1 lagi. Ya know?? Tuh kelas isinya cucunya Einstein semua!!! Nih ya gue absenin satu-satu. Rini, Didit, Iis, Inas, Akalily, Isni, Dimas Mulyajaya, Dimas Noron, Lenny, Putri Amelia, Fuji, Nadia Fathiyya, Nadya Arezhia, Nadia Defiani, Eka Sari, Santoso, Firdha, Rachmah, Diantary, aaah suram! Mati tenggelem gue disitu! Damn it!
Oke, gue akui ada senengnya juga sih, coz gue sekelas sama Dara, Ajeng, Eka, Heni, dan terutama Reza. Believe or not, pas gue liat daftar nama anak IPA 1 dan gue nemuin nama dia, mata gue sempet berhenti sebentar dan reflek hati gue berharap moga di deret bawah nama itu ada nama gue. And I got it! Nama gue ada di dua nama setelah nama dia. Ya gitu deh, terus gue seneng coz gue ga jadi pisah kelas sama dia. Hei hei, jangan mikir macem-macem ya. Gue sama dia just like brotha and sista. Gue sayang sama dia, tapi cuma sebatas kakak. Makanya gue ga mau dipisahin sama dia, soalnya dia lumayan care sama gue. Eh apasih? Kok malah jadi ngomongin Reza??
Balik lagi ke soal kelas. Just giving information, tuh kelas isinya 48 orang, tapi tau ga cowoknya cuma berapa? 17 orang!!! Hellooo?? Freak banget ga sih?? Udah kayak kelas SC! Itu loh, kelas yang dipake di kurikulumnya adek kelas gue. Aslinya mah artinya Siswa Cerdas, tapi kalo kelas gue, mungkin jadi Siswa Cacat! Hiks... *miris*
Dan parahnya, diantara 17 cowok itu, ga ada yang bisa ngelawak alias para ALIMisme semua. Ada sih Baressi sama Sesa, terus ada Zarqony juga. Tapi kan kalo ga ada temennya, mereka juga ga bisa berkoar! Tau ah, pokoknya tuh kelas anyep seee-anyep anyepnya! Beda banget sama IPA 1 yang dulu, kelas gue tercinta. Yang rame dan seru. Huaaa... kangen sumpah! (padahal baru satu hari pisah)
Bocah IPA 1 yang dulu bener-bener kepencar separah-parahnya. Gengnya Rini aja udah ga utuh lagi. Rini sama Iis di IPA 1, Echy di IPA 2, Jeje di IPA 3, Kunung di IPA berapa ya? Ah lupa gue tanyain. Astuti cs juga mencar. Astuti sama Inas di IPA 1, Lista sama Shella ga tau deh di IPA berapa. Terus si Tiga Serangkai alias Tatang-Cakra-Wira juga kepencar. Cakra IPA 2, Wira IPA 3, Tatang IPA 4. Jerry cs juga kepencar. Reza IPA 1, Himawan sama Jerry IPA 3, Victor IPA 2, Aldo IPA 4. Terus Rizky IPA 2, Angga, Dwi & Reza Aprialdi (Ujang) di IPA 3, Ahmad & Kencana di IPA 4. Hmm... Kartiko IPA berapa ya? Nah itu juga gue lupa nanyainnya. Tuh, PARAH banget kan mencarnya?!! Ga ada yang tersisaaa!!! :(
Sumpah ya baru kali ini gue ngerasa sedih banget pisah sama kelas gue. Dan baru kali ini gue bisa akur sama kelas gue sendiri. Dulu-dulu kan gue pasti selalu ada aja masalah sama anak kelas gue yang ngebuat gue ga betah dan pengen cepet-cepet keluar. Tapi sekarang ga. Kenapa sih, disaat gue udah bisa nyatu sama mereka, malah dipisahin?? TEGA! :(
Sekarang gue duduk sama Dara. Biarpun dia sahabat gue, tapi agak kikuk rasanya, coz biasanya kan yang disamping gue tuh Victor. Biasanya gue senderan sama dia, yang jangkungnya banget-banget. Tapi kalo Dara kan pendek. Biasanya gue bercanda sama Victor, main coret-coretan, tabok-tabokan, jambak-jambakan, ceng-cengan, dan kadang malah curhat. Tapi sekarang udah ga. Gue ga akan lupa kalo dia pernah nasehatin gue. Gue bener-bener ngerasa kayak dia ngelindungin gue lewat nasehatnya itu. Huaaa... sayang sama Victooor! Tadi aja gue SMS dia gini: “victooor... kangeeeen...! (ga lebay loh)” terus dia bales apaaa gitu gue lupa. Sumpah, meski baru dipisah sehari, tapi gue bener-bener kangen sama dia. Gue juga kangen sama Aldo, Jerry (Kojek), Himawan, Angga, & Kartiko yang suka main ceng-cengan dan bikin rame. Gue kangen liat mereka maen Poker, berebutan makanan, maen gitar di belakang, atau tidur di kelas pas pelajarannya ngebosenin. Gue kangen Ya Allah, demi apapun kangeeen bangeeet!!! Ngelewatin sehari di kelas yang baru ini tuh kayak lamaaa banget rasanya. Gue pengen cepet-cepet ini berakhir. Gue pengen balik ke kelas yang dulu, the real XII IPA 1!!!
Haaa... nangis juga kan gue akhirnyaaa. Reza aja dari tadi siang bete banget, sampe-sampe di SMS pun juteeek banget. Ya iyalah, dia cuma sendiri di IPA 1. Jerry sama Himawan kan di IPA 3. Ga aneh sih kalo dia suntuk gila! Kasian gue jadinya. Gue ga mau dia sedih gitu, tapi gue bisa apa? Toh gue juga nangis kan akhirnyaaa... :(


Remember this thing:
"Kita baru merasa memiliki seseorang, justru disaat kita telah kehilangannya..."







 Miss these moments... 

Selasa, 08 Maret 2011

Kenapa...


Yang gue tau, lo selalu ngertiin gue. Lo selalu tau saat-saat dimana gue emang lagi sensi banget dan lo rela untuk ngalah. Saat gue lagi egois, lo juga ngertiin gue dan sabar banget ngadepin gue. Lo selalu perhatian sama gue ga peduli saat itu kita lagi berantem atau gue lagi ngediemin lo. Tapi kenapa sekarang semuanya beda? Kenapa justru lo yang selalu minta dingertiin dan nyalahin gue? Kenapa lo udah ga pernah lagi perhatian sama gue bahkan di saat hubungan kita lagi baik-baik aja? Kenapa lo cuek? Kenapa lo udah ga pernah ngehargain perasaan gue lagi? Kenapa???
Apa lo udah bosen ngertiin gue dan ngadepin gue? Gue emang terlalu childish. Mungkin gue ga pantes buat lo. Jadi wajar aja kalo lama-lama lo bakal bosen ngadepin gue...
Ternyata semuanya ga seperti yang gue kira ya. Gue kira lo emang sabar dan pengertian, tapi ternyata semua itu cuma ada di awal aja. Ternyata lo juga bisa bikin gue nangis dan sakit hati. Dan ternyata lo bisa berubah...

Gue kangen sama sosok lo yang gue kenal dulu. Apa dia cuma kesemuan aja? Apa dia ga bisa balik lagi? Karna gue ga kenal sama lo yang sekarang...

Rabu, 02 Maret 2011

Untuk Kakakku

“Mengenangmu adalah hal yang paling benci ku lakukan karena setelah itu aku takkan bisa melupakanmu dalam hari-hariku...”

Kakak, ini surat kedua yang aku tulis untuk kakak di blog aku. Sama seperti yang pertama, aku tulis ini karena aku lagi ngerasa kangeeen banget sama kakak. Kakak tau ga? Sekarang tanggal 1 Maret. Sebentar lagi tanggal 7 Maret. Kakak inget ga? Dua tahun lalu alias tahun 2009, di tanggal itu kita pertama kali ketemu. Lucu sih kalo inget saat itu, soalnya kita masih saling canggung. Tapi tetep aja aku seneng bisa ketemu kakak. Kakak manis deh, mata kakak juga coklat. Aku kan suka sama cowok yang matanya coklat, kaaak. Heheee... :D
Terus setelah hari itu, kita jadi makin deket. Aku sayaaang banget sama kakak. Kakak selalu perhatian sama aku dan bisa manjain aku dengan cara kakak sendiri. Kakak berhasil ngebuat aku nyaman banget sama kakak dan ngebuat aku ngerasa ga butuh perhatian lagi dari cowok lain. Meski kita cuma kontak lewat SMS dan itupun ga intens, tapi tetep cuma kakak yang aku sayang... :)
Sampai akhirnya, hari itu tiba. Hari aku jadi cewek paling tolol sedunia. Dengan bodohnya aku cerita sama kakak kalo aku suka banget sama junior kakak, padahal pas itu kakak lagi “berharap lebih” sama aku. Tapi kakak ngebiarin aku ngedeketin junior kakak, bahkan kakak ngasi nomor dia ke aku. Dan beberapa hari setelah itu, hubungan kita justru makin ngejauh. Aku ngerasain itu, kak. Ngerasaaa banget. Tapi kakak selalu bilang kalo kakak ga kenapa-napa. Beberapa minggu kemudian, aku dapet kabar kalo kakak udah jadian. Aku sedih banget kak. Aku tau ga lama lagi aku bakal kehilangan kakak. Kakak yang paling aku sayang dan paling ngertiin aku... :(
Dan itu pun beneran terjadi, kakak bener-bener ngejauh dari aku karna kakak ga mau pacar kakak cemburu. Tapi aku ga suka dapet perhatian yang setengah-setengah dan dijadiin yang “nomor dua”, makanya aku lebih milih mundur jadi adeknya kakak dan minta supaya kakak ga hubungin aku lagi. Kalo ada hal yang paling aku sesalkan dalam hidup, permintaan itu adalah salah satunya, kak. Aku nyesel banget pernah ngirim private message itu. Tapi aku tau, segimana pun aku nyesel, ga akan ngerubah apa-apa. Kita udah bukan kakak-adek lagi... :(
Aku seneeeng banget pas tanggal 6 Maret 2010 bisa ketemu kakak lagi di moment yang sama, LKBB Paskibra di Bekasi Cyber Park. Meski kita ga ngomong apa-apa tapi ketemu kakak udah cukup bikin aku seneng. Aku ga nyangka banget bisa ketemu kakak tiba-tiba begitu. Mungkin emang takdir ya kak? Hahaaa... :D
Hmm... kayaknya tahun ini Paskibra 7 ga ikut lomba, kak. Aku juga ga tau ada lomba LKBB lagi apa ga. Jadi... kita ga bisa ketemu lagi ya kak? Padahal aku pengen banget ketemu kakak. Aku pengen cerita banyak hal sama kakak. Aku pengen sehariii... aja jalan bareng sama kakak. Makan siang bareng, foto-foto, ketawa-ketawa, apa aja deh pokoknya. Dan aku pengeeen banget kakak ngelus-ngelus kepala aku.  Selama kita jadi kakak-adek dulu, kakak kan ga pernah ngelus kepala aku. Padahal aku seneng banget digituin. Kita juga belum pernah jalan bareng sekali pun. Tapi kayaknya semua itu cuma bisa jadi harapan sia-sia aja, soalnya kakak kan lagi pendidikan militer. Ga tau juga kan kapan bisa pulangnya. Dan kalaupun bisa pulang, mungkin kakak ga bakal mau ketemu aku. Mungkin bagi kakak, masa lalu ya masa lalu. Ga akan ada arti apa-apa lagi... :(
Kak, biasanya aku ga butuh waktu sampe setahun untuk hilangin posisi seorang cowok di hati aku. Tapi udah dua tahun berlalu, kakak tetep aja ada di hati aku. Kakak tetep bisa buat aku nangis tiap Riwi ngingetin aku tentang kakak, karna aku kangen banget sama kakak. Tiap liat coklat Silver Queen aku juga selalu keinget kakak, soalnya kakak kan suka banget coklat Silver Queen. Aku kan punya utang kasi kakak coklat kan ya? Aku pengen banget bisa bayar utang itu kak. Kakak mau kasi aku kesempatan ga?
7 Oktober, aku ga akan pernah lupa sama tanggal itu. Tanggal ulang tahun kakak. Cuma beda dua hari sama aku. Tapi umurnya mah beda 5 tahun, heheee... :D
Mungkin itu yang ngebuat aku nyaman banget sama kakak. Selisih umur kita ideal banget buat jadi kakak-adek. Aku ga pernah berharap kakak jadi seseorang yang “lebih” dari seorang kakak, karna aku maunya kakak jadi kakak aku aja. Kalo untuk jadi pacar, ga mungkin kak. Soalnya selisih umur kita terlalu jauh. Makanya aku ga ngerespon waktu kakak “berharap lebih” sama aku itu. Aku pengen kita jadi kakak-adek aja. Dan aku juga udah terlanjur sayang banget sama kakak sebagai kakakku... :)
Hmm... kakak lagi apa sekarang? Moga disana kakak baik-baik aja yaa. Aku sedih sekarang kakak udah berubah. Pas kakak sempet online, kakak ga pernah balas chat atau wall aku. Kakak terkesan sombong sekarang, tapi mudah-mudahan itu cuma perasaan aku aja yaa. Mudah-mudahan kakak tetep seperti kakak yang aku kenal. Ramah, baik, perhatian, rendah hati, lembut dan penyayang. Aku mungkin udah ga ada artinya lagi buat kakak, tapi kakak selalu berarti buat aku. Kakak adalah kakak terbaik yang pernah aku punya. Baik-baik disana ya kak. Aku ikut berdoa buat kesuksesan kakak. Aku sayang kakak... :)


Dari seseorang yang selalu merindukanmu,



Shabrina Iskandar

Jumat, 11 Februari 2011

I M A J I



Aku imaji.
Aku ada di tengah hingar, di sekitar bingar dan ramai.
Aku ada di sela riuh, berbaur mengadu sorak sorai.

Namun tak ada yang peduli.
Tak ada yang merasa aku berarti. Bahkan seperti lebih baik mati.

“Tidak! Mengapa begini? Hei, aku disini! Kemari! Ah, aku tak terima ini! Mengapa aku sendiri?” telah aku teriaki keramaian ini, namun tak jua ada yang menyadari.

Aku lelah, memberontak, meneriaki mereka agar tahu aku disini.
Tak berhenti.
Hingga baru ku sadari,
aku hanya imaji.

One of Sweet Memoria

7 Februari 2011 - 12 Februari 2011,
masa Ujian Praktek kelas XII SMAN 7 Bekasi...

Banyak dari anak-anak kelas XII yang sebenernya belum siap sama ujian praktek ini. But, ready or not, we have to face it :)

Hari pertama jadwalnya Fisika & Olahraga. Materi fisika ada titik berat, ayunan, pegas dan pengukuran pake jangka sorong. Gue dapet yang pegas. Sebenernya sih gampang, tapi gue aja yang nggak teliti. Heheee...
Terus olahraga materinya lari. Waktu gue 18:24. Hahahaaa... lama amat ya? Ya gitu deh. Gue kan nggak pernah lari. Hmm... pulang praktek, PM dari jam dua sampe jam setengah empat.
.
Di hari kedua, bener-bener bikin nyiksa. Praktenya Agama & Bahasa Jepang. Udah gitu materi agama buat cewek Shalat Istikharah, yang cowok Shalat Jenazah. Doanya kan panjang-panjang banget. Ditambah praktek Bahasa Jepang juga harus baca teks yang ada Hiragana, Katakana & Kanji. Terus diartiin! Mantap dah! Pulang praktek, PM sampe jam dua.

Hari ketiga, prakteknya Biologi & TIK. Yang paling eksotis tuh biologi, satu-satunya pelajaran yang materi ujiannya paling banyak. Kalo fisika emang ada 4, tapi kita cuma ngerjain satu, tergantung undian yang didapet. Kalo biologi mah kudu dikerjain semua! Hahaaa...
Materinya rangka, respirasi aerob - anaerob, organ dalam, enzim katalase & uji makanan. Dan setelah dapet hasilnyaaa... kelas gue cuma lulus 7 orang! Hahahaaa... eksotis banget kan? Alhamdulillah gue termasuk yang lulus. Pulang praktek, PM sampe jam setengah empat. Huff...

Hari keempat, prakteknya Bahasa Indonesia & Bahasa Inggris. Bahasa Indonesia tugasnya musikalisasi puisi. Gue sekelompok sama Jerry Stefan, Reza Rizkika, Ahmad Heri, Dwi Cahyo & Himawan. Hahaseeek... gue paling cantik dong! Ya iyalah, cewek sendiri. Hahahaaa...
Lumayan sukses hasilnya, meski nggak bagus-bagus banget sih. By the way, gue naksir berat sama lagu & puisi buatan kelompoknya I Made (Wira), Eka Sari, Zan Rike, Daniar, Krisna & Tatang. Kapan-kapan gue posting deh liriknya. Hmm... untuk Bahasa Inggris, tugasnya conversation. Gue berdua sama Victor, and the result is... not too bad!
Pulang praktek, kita PM sampe jam tiga. Terus kita masih harus ngetem di sekolah buat latihan drama, untuk praktek Seni Budaya, sampe jam setengah lima...

Hari kelima, praktek Kimia & Seni Budaya. Kimia lumayan gampang, soalnya gue dapet yang nyebur-nyeburin kertas lakmus. Terus habis itu praktek Seni Budaya deh! Gue sekelompok sama I Made (Wira), Krisna, Jerry, Reza Aprialdi, Didit, Rizky & Eka Sari. XII IPA 1 paling unik dong. Ada yang drama, dance, tari tradisional, main musik + nyanyi, ada juga yang ngejadiin alat-alat makan jadi alat musik. Seru!
Drama gue cukup sukses. Dan gue cukup seneng dapet kelompok bareng mereka. Oya, ada accident kecil nih pas drama. Jarinya Krisna ketusuk gunting. Padahal adegannya tuh dia nusuk Wira, eh nyatanya malah dia yang ketusuk. Konyol deh. Tapi kasian juga loh dia...

Hari keenam, prakteknya cuma Bahasa Sunda. Tapi bikin gugup juga. Mending pidato Bahasa Inggris deh daripada Bahasa Sunda! Hahaaa...

Gitu deh cerita selama ujian praktek ini. Gue posting ini tepat di hari terakhir ujian praktek. Gue rasaaa... berkat ujian praktek, anak IPA 1 jadi tambah deket, soalnya kan bareng-bareng terus dan ngerasain perasaan senasib mulu! Hahaaa....

Gimana dengan ujian kalian, Guys? Moga sukses juga yaa... :)
Love you,


Shabi...

Seharusnya Aku Lebih Peka

Seharusnya aku lebih peka. Tentang dia. Tentang segala hal di dirinya. Dia yang realistis, yang lebih menyenangi hal-hal nyata dibanding sesuatu yang bermakna...


Seharusnya aku lebih peka. Tak menilai segalanya hanya dari sudut pandang ku saja. Mungkin sesuatu itu ku suka, namun bukan berarti ia merasa demikian juga...


Seharusnya aku lebih peka. Agar sesuatu itu tak menjadi sia-sia. Agar dapat ku lihat senyum bahagia di wajahnya ketika ku berikan benda itu padanya. Bukan sekadar seulas senyum dan tatapan sederhana...


Namun terimakasih. Karna kau telah mengingatkan ku,
untuk lebih peka tentangmu...

B A H A G I A


Pernah ku rasakan sesuatu bernama bahagia.
Saat bersamanya, seperti ingin waktu terhenti untuk selamanya.
Agar ku tak miliki selain ia,
selain bahagia.

Aku pernah,
aku sedang,
aku akan,
aku ingin
merasakannya
dan tak pernah lepas darinya.

Minggu, 23 Januari 2011

You Made Me Like A Fool

Dia. Seseorang yang tak pernah ku sangka menjadi jawaban atas tanyaku. Masa kenal yang demikian singkat dan masalah yang berbelit di awal cerita, tak pernah tergambar di benakku bahwa kelak dapat sebegini menyayanginya. Bahkan sedemikian takut ditinggalkan. Entahlah, mungkin aku hanya tak ingin dibodohi, tak ingin menangis terisak-isak lagi, atau mungkin... aku telah mencintainya?
Aku tidak pernah tahu sebesar apa kesungguhannya padaku. Terkadang ada sedikit keyakinan bahwa ia tidak benar-benar menyayangiku. Mungkin rasa sayang itu ada, namun sebatas kesemuan. Bukan sebuah kesungguhan karena ku rasa aku bukanlah seseorang yang berarti baginya atau bagi siapapun...
      Secara universal, dia bukan manusia sempurna. Namun dari segi tertentu, ia sempurna di mataku. Ku katakan sempurna, karena sosok yang ku inginkan hampir seluruhnya ada di dirinya. Aku bahkan merasa rendah diri saat bersamanya karena aku yakin aku bukanlah sosok yang dia cari. Aku sama sekali tidak cantik dan begitu menyebalkan. Ceplas-ceplos dan bertindak serampangan, sesuai kata hati. Kontras dengan dia yang pintar menutupi perasaan dan berfikir panjang. Tak ada yang menarik di diriku dan tak ada hal lebih yang bisa dibanggakan dari seorang aku. Jadi bagaimana bisa ia sungguh-sungguh denganku? Aku saja yang sepertinya begitu bodoh dengan bertindak terlalu menyayangi dan mempercayainya. Tapi aku tak mampu mengelak dari rasa yang timbul tanpa rekayasa ini.
       Aku pernah menyayangi seseorang dan takut ditinggalkan. Namun tak pernah sebegini sayang dan sebegitu takut kehilangan. Aku bukan seorang yang senang mematuhi orang lain. Tapi meski tak bertatap wajah, aku dengan senang hati menurut apa yang diperintahnya dari seberang sana. Aku tak mudah memaafkan seseorang yang kata-katanya terlalu menusuk perasaanku. Namun aku dengan mudah memaafkannya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Aku seorang yang egois dan tak akan meminta maaf berlebihan kalau ku rasa kesalahanku tidak begitu besar sekalipun orang itu mencaci makiku. Tapi aku takkan bisa konsentrasi seharian saat ia sedang marah padaku karena kesalahan kecilku. Aku takkan tenang dan mencoba segala cara untuk minta maaf sampai ia memaafkanku dan hubungan kami kembali membaik.
      Ia sering acuh terhadapku dan membuatku kesal. Sempat ku balas mengacuhkannya, namun itu tak pernah bisa bertahan lama. Aku segera lupa dengan semua sikap menyebalkannya ketika ia mulai bersikap manis dan manja. Pun ketika sedang bersamanya, aku seakan amnesia bahwa aku pernah berniat memarahinya karena sikap acuh serta kurang pekanya yang membuat hati kesal dan gemas. Mungkin aku terhipnotis dengan kombinasi tatapannya yang dalam dan senyumnya yang manis, serta wangi lembut Escada di tubuhnya. Aku layaknya bocah yang langsung lupa akan tangisnya ketika diberi es krim coklat. Aku sadar aku sungguh bodoh. Tapi apa yang bisa ku lakukan? Aku tak bisa menyangkal perasaan ini dan tak ingin mengusirnya pergi.
       Sungguhkah aku telah merasakan... cinta?

Sabtu, 22 Januari 2011

Namaku

Apalah artinya namaku bagimu? Nama itu tak berjiwa
Dia akan menghilang, seperti raungan kecil
Dari gelombang yang menghantam tepian di kejauhan
Seperti suara riuh malam di hutan lebat!


Nama itu akan tertulis di kertas memo,
dengan kesedihan
Cetakannya akan terlihat kusam
Seperti tulisan di batu nisan,
tertinggal dalam bahasa asing


Apalah artinya nama itu? Sudah lama terlupakan
Dalam amukan gelombang dan angin baru yang menggelegak
Dia akan membawakan kenangan yang lembut dan murni
Di dalam lubuk jiwamu


Namun, di dalam hari-harimu yang sunyi dan sedih,
Ku mohon sebutkan namamu dengan lirih
Katakan bahwa "ada yang sedang merindukanku"
Di dunia ini aku hidup di dalam hati seseorang
yang merindukanku

- Pushkin -

Senin, 10 Januari 2011

Ayahku


Ayahku memang tak sempurna,
tak seperti yang kuinginkan…
Ayahku memang tak selalu ada untukku,
tak sepenuhnya mengerti aku…
Ayahku memang tak seperti Super Dad,
tak sempurna…

Banyak pendapat dari mereka
tentang ayahku…
Aku tahu sebagian besar pendapat itu
benar…
Tapi apapun kata mereka,
yang ku tahu
ia ayahku…

Meski ayahku takkan pernah jadi
Super Hero dunia
atau masuk dalam daftar Super Dad…
Dan meski pengorbanannya
takkan sebesar ibu…
Ayahku
akan tetap jadi pahlawanku...

Seperti apa pun ia di mata orang lain,
di mataku ia sempurna,
ia segalanya...
Dan aku selalu menyayanginya
hari ini, lusa,
hingga masa ku tiada...

- Shabrina -
      Terlalu banyak pemikiran, penilaian dan sudut pandang. Terlalu banyak hal membingungkan yang berujung bosan. Dan terkadang segalanya terasa seperti cermin yang merefleksi bayangan menakutkan...

- Shabrina -

Lewat Lukisan Itu, Aku Mengenal Dirimu


Tersandar di sudut ruangan itu, sebuah karya seni berestetika tinggi di atas kanvas sederhana. Pesonanya sedemikian kuat,  menarik setiap pandang untuk mendekat dan mengaguminya. Terlukis goresan-goresan kuas yang sempurna, menutupi rapuhnya Sang Kanvas Tua.
Siapakah gerangan penciptanya? Pastilah seorang seniman yang telah melegenda. Yang telah mencipta puluhan mahakarya dunia, dan mengusik bermacam emosi lewat abstraksi realitanya.
Khayalanku mengimajinasikan rupanya. Seorang penyendiri yang jumawa, dengan siratan kekakuan lewat paras bekunya. Dan tentu saja, membenci keramaian manusia.
Namun di balik kemegahan Sang Mahakarya, ku tangkap satu makna yang begitu nyata. Bahwa ia mungkin seorang yang rapuh dan merindukan sesuatu jauh di  dalam jiwanya. Hanya saja, tak semua orang dapat mengetahuinya karena ia mampu berkamuflase dengan caranya yang sempurna.
Aku terus menerka, hingga tak menyadari ada seseorang yang mengajakku bertukar sapa. Aku tersenyum padanya, demikian pula dia. Lalu darinya ku dengar suara “Kau menyukainya?”
Kembali ku tersenyum tanpa reka dan berkata, “Entah bagaimana ia mampu mencuri perhatianku dan membuatku jatuh cinta.”
“Aku yang memintanya memikat hatimu untuk terpukau dengan pesonanya hingga aku menemuimu disini bersamanya,” ujarnya tanpa ku duga. Sebuah kalimat bersensasi romantis dan mampu membuatku terpikat akan pribadinya.
Dan kami segera terlibat dalam sebuah rangkaian cerita. Berbagi fantasi serta realita hidup aku dan dia. Saat itu aku sadari imajinasiku keliru tentangnya. Ia sama sekali bukan Sang Penyendiri, berparas beku, atau membenci keramaian manusia. Ia sungguh ramah dan terbuka. Namun aku masih menangkap kerapuhan dan kekosongan lewat cahaya matanya.
“Sungguhkah kau benar-benar merasa nyaman akan kehidupanmu yang sempurna? Tak adakah hal lain yang kau rindukan hingga kau terhinggapi kekosongan jiwa?” sebuah pertanyaan lugas terlontar berkat rasa penasaran dan keberanianku yang datang tiba-tiba. Mendengar itu, ia tersenyum seakan tak percaya aku telah menanyakan hal itu padanya.
“Kurasa matahari baru saja bergeser tiga puluh menit ke peraduannya sejak kita bertukar sapa. Namun kau langsung mengenaliku seakan matahari itu telah ratusan kali memutari dunia. Sungguhkah ini pertama kali kita berjumpa?”
“Ku rasa tidak. Aku ingat kalau aku telah berjumpa dengan tangan kananmu sebelumnya.”
“Siapa dirinya?”
“Dia lukisanmu. Yang kau minta untuk memikat hatiku agar terpikat dengan pesonanya. Ternyata ia mengkhianatimu dan bercerita segalanya tentang dirimu sebelum takdir memulai perjumpaan kita,” jawabku sejujurnya.
“Sungguh? Baiklah, kelak aku pasti menghukumnya. Namun agar aku tak salah memberi hukuman, bersediakah kau ceritakan kembali apa yang telah diungkapkannya?”
“Kau menciptanya dibantu sebuah kanvas yang semula tak berwarna, kanvas yang sesungguhnya telah rapuh dan tua. Namun kau goreskan padanya warna-warna imajinasimu yang lahir dari realita hidupmu sesungguhnya. Warna-warna itu berbicara, mengakui kalau mereka adalah cermin kehidupan luarmu yang seolah sempurna. Dan warna-warna itu pula yang menutupi Sang Kanvas Tua, sisi dalam dirimu sesungguhnya yang rapuh dan merindukan sesuatu yang berbeda. Benar-benar tertutupi dengan sempurna, namun hasil lukisanmu tetap saja menyiratkannya. Sepertinya kau terlalu lama membiarkanku bersama lukisan itu hingga aku terlalu dalam memaknainya...” jelasku padanya. Ia terus menyimak tanpa sedikitpun ada perubahan di raut wajahnya.
“Jadi... sepertinya ini bukan salah dia ya?” ucapnya sambil tersenyum, tak menyangka aku dapat sedemikian cepat mengenali dirinya.
“Dan bukan salahmu juga. Ku sarankan jangan terlalu banyak membubuhkan cat minyak pada kanvas yang telah tua. Suatu saat ia dapat menjadi terlalu jenuh hingga mengurangi estetika ciptaanmu yang seharusnya lebih sempurna...”

Selasa, 04 Januari 2011

Beberapa Hal Yang Mungkin Tidak Diketahui Anak Tentang Ayahnya


1. Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun, dan selalu membutuhkan kehadirannya.

2. Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.

3. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.

4. Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka. karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.

5. Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu), tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.

6. Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti berenang di air setelah ia melepaskannya.

7. Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.

8. Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak baik dan menyayangi.

9. Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup.

10. Ayah benar-benar senang membantu seseorang, tapi ia sukar meminta bantuan.

11. Ayah di dapur. Membuat dan memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu.

12. Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.

13. Ayah akan sangat senang membelikanmu makanan selepas ia pulang kerja, walaupun dia tak dapat sedikitpun bagian dari makanan itu.

14. Ayah selalu berdoa agar kita menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat, walaupun kita jarang bahkan jarang sekali mendoakannya.

15. Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat.

16. Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.

17. Ayah percaya orang harus tepat waktu. Karena itu dia selalu lebih awal menunggumu.

18. Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan.

19. Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara.

20. Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar uang sekolahmu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah memikirkannya, bagaimana ia mendapatkannya.

21. Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu.

22. Ayah akan berkata, "Tanyakan saja pada ibumu," ketika ia ingin berkata, "Tidak".

23. Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin.

24. Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepergok menghisap rokok dikamar mandi.

25. Ayah mengatakan, tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan.

26. Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu hal yang baik persis seperti caranya.

27. Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri.

28. Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.

29. Ayah tidak suka meneteskan air mata. Ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya, dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis).

30. Ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu... ketika kau mimpi akan dibunuh monster...

31. Tapi, ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.

32. Ayah pernah berkata, "Kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkualitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya"
 

33. Untuk masa depan anak lelakinya Ayah berpesan, "Jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu, berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu".
 

34. Dan untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan, "Jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak. Laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu"
 

35. Ayah bersikeras, bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu.

36. Ayah bisa membuatmu percaya diri, karena ia percaya padamu.

37. Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik.

- dari www.unikboss.blogspot.com -