Tersandar di sudut ruangan itu, sebuah karya seni berestetika tinggi di atas kanvas sederhana. Pesonanya sedemikian kuat, menarik setiap pandang untuk mendekat dan mengaguminya. Terlukis goresan-goresan kuas yang sempurna, menutupi rapuhnya Sang Kanvas Tua.
Siapakah gerangan penciptanya? Pastilah seorang seniman yang telah melegenda. Yang telah mencipta puluhan mahakarya dunia, dan mengusik bermacam emosi lewat abstraksi realitanya.
Khayalanku mengimajinasikan rupanya. Seorang penyendiri yang jumawa, dengan siratan kekakuan lewat paras bekunya. Dan tentu saja, membenci keramaian manusia.
Namun di balik kemegahan Sang Mahakarya, ku tangkap satu makna yang begitu nyata. Bahwa ia mungkin seorang yang rapuh dan merindukan sesuatu jauh di dalam jiwanya. Hanya saja, tak semua orang dapat mengetahuinya karena ia mampu berkamuflase dengan caranya yang sempurna.
Aku terus menerka, hingga tak menyadari ada seseorang yang mengajakku bertukar sapa. Aku tersenyum padanya, demikian pula dia. Lalu darinya ku dengar suara “Kau menyukainya?”
Kembali ku tersenyum tanpa reka dan berkata, “Entah bagaimana ia mampu mencuri perhatianku dan membuatku jatuh cinta.”
“Aku yang memintanya memikat hatimu untuk terpukau dengan pesonanya hingga aku menemuimu disini bersamanya,” ujarnya tanpa ku duga. Sebuah kalimat bersensasi romantis dan mampu membuatku terpikat akan pribadinya.
Dan kami segera terlibat dalam sebuah rangkaian cerita. Berbagi fantasi serta realita hidup aku dan dia. Saat itu aku sadari imajinasiku keliru tentangnya. Ia sama sekali bukan Sang Penyendiri, berparas beku, atau membenci keramaian manusia. Ia sungguh ramah dan terbuka. Namun aku masih menangkap kerapuhan dan kekosongan lewat cahaya matanya.
“Sungguhkah kau benar-benar merasa nyaman akan kehidupanmu yang sempurna? Tak adakah hal lain yang kau rindukan hingga kau terhinggapi kekosongan jiwa?” sebuah pertanyaan lugas terlontar berkat rasa penasaran dan keberanianku yang datang tiba-tiba. Mendengar itu, ia tersenyum seakan tak percaya aku telah menanyakan hal itu padanya.
“Kurasa matahari baru saja bergeser tiga puluh menit ke peraduannya sejak kita bertukar sapa. Namun kau langsung mengenaliku seakan matahari itu telah ratusan kali memutari dunia. Sungguhkah ini pertama kali kita berjumpa?”
“Ku rasa tidak. Aku ingat kalau aku telah berjumpa dengan tangan kananmu sebelumnya.”
“Siapa dirinya?”
“Dia lukisanmu. Yang kau minta untuk memikat hatiku agar terpikat dengan pesonanya. Ternyata ia mengkhianatimu dan bercerita segalanya tentang dirimu sebelum takdir memulai perjumpaan kita,” jawabku sejujurnya.
“Sungguh? Baiklah, kelak aku pasti menghukumnya. Namun agar aku tak salah memberi hukuman, bersediakah kau ceritakan kembali apa yang telah diungkapkannya?”
“Kau menciptanya dibantu sebuah kanvas yang semula tak berwarna, kanvas yang sesungguhnya telah rapuh dan tua. Namun kau goreskan padanya warna-warna imajinasimu yang lahir dari realita hidupmu sesungguhnya. Warna-warna itu berbicara, mengakui kalau mereka adalah cermin kehidupan luarmu yang seolah sempurna. Dan warna-warna itu pula yang menutupi Sang Kanvas Tua, sisi dalam dirimu sesungguhnya yang rapuh dan merindukan sesuatu yang berbeda. Benar-benar tertutupi dengan sempurna, namun hasil lukisanmu tetap saja menyiratkannya. Sepertinya kau terlalu lama membiarkanku bersama lukisan itu hingga aku terlalu dalam memaknainya...” jelasku padanya. Ia terus menyimak tanpa sedikitpun ada perubahan di raut wajahnya.
“Jadi... sepertinya ini bukan salah dia ya?” ucapnya sambil tersenyum, tak menyangka aku dapat sedemikian cepat mengenali dirinya.
“Dan bukan salahmu juga. Ku sarankan jangan terlalu banyak membubuhkan cat minyak pada kanvas yang telah tua. Suatu saat ia dapat menjadi terlalu jenuh hingga mengurangi estetika ciptaanmu yang seharusnya lebih sempurna...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar