Bisa dibilang, malam ini malam takbiran, meski keputusan pemerintah tentang 1 Syawal jatuh di tanggal 31 Agustus (lusa). Tapi ibu ikut keputusan Muhammadyah, yang berlebaran tanggal 30 Agustus (besok), jadi mungkin gue akan ikut juga...
Seperti tahun-tahun sebelumnya, tiap malam takbiran gue pasti selalu review kenangan-kenangan gue waktu ayah dan ibu masih sama-sama. Kinda wonderful memories. But I don't wanna get that back. Itu masa lalu, dan mungkin takdir telah menggariskannya hanya sebagai masa lalu, bukan masa lalu yang akan terulang lagi...
Saat-saat itu sangat menyenangkan. Gue pasti nggak akan bisa tidur sampai larut malam karna terlalu senang. Bahkan sampai sekarang pun, gue sering nggak bisa tidur kalau besoknya gue ada event tertentu atau acara yang 'penting' buat gue...
Pas malam takbiran, ibu pasti selalu bikin kue. Biasanya kue bolu dan brownies. Soalnya ayah sukaaa banget sama browniesnya ibu. Gue juga. Dan yang pasti, gue selalu berebut sama ayah soal brownies karena takut kehabisan. Bagi gue, itu adalah saat-saat sederhana namun berkesan. Saat itu, gue merasa hidup gue sangat sempurna. Dan saat itu, tentu saja, gue mengira ayah dan ibu saling mencintai. Mungkin ibu juga berfikir begitu...
Sampai beberapa tahun setelah berpisah, gue masih nggak ngerti kenapa ayah bisa menjalani hidup berumah tangga selama 9 tahun dengan ibu dan terlihat mencintai ibu padahal sesungguhnya nggak begitu. Gue nggak ngerti kenapa ayah pernah merasa cemburu, tapi di sisi lain sebenarnya ayah nggak mencintai ibu. Dan yang paling nggak habis fikir, bisa ada tiga anak tapi tanpa cinta???
Semula gue emang nggak bisa mengerti. Dan gue juga nggak bisa paham ketika ibu berkoar-koar di depan gue tentang perselingkuhan ayah dengan perempuan lain. Ibu berusaha membuat gue membenci perempuan itu, dan mengerti gimana rasa sakitnya dikhianati. Tapi saat itu gue masih belum ngerti apa-apa. Kalo ibu suruh gue maki-maki perempuan itu ya gue maki-maki, kalo ibu suruh gue marah-marah sama ayah ya gue marah-marah. Tapi tanpa rasa yang jelas...
Sampai bertahun-tahun setelah itu, gue merasa ibu yang jahat. Ibu selalu maksa gue untuk nyampein amarahnya ke ayah dan membuat itu seolah-olah dari gue. Padahal gue nggak mau begitu. Yang selalu gue harapkan adalah ibu dan ayah kembali sama-sama, nggak peduli siapa yang salah. Saat itu gue merasa mereka egois, karna tega ngorbanin perasaan anak-anak demi ego dan emosi masing-masing. Gue bahkan sempat menyalahkan ibu karna ibu nggak bisa ngorbanin perasaannya demi anak-anaknya...
Sekarang, gue merasa bersalah banget pernah nganggap ibu seperti itu. Yaaa... saat itu gue belum ngerti gimana sakitnya dikhianati. Tapi sekarang gue udah mengerti. Tuhan telah menulis skenario ini. Skenario yang semula gue anggap sangat pahit, tapi ternyata mengandung banyak pelajaran untuk gue...
Tuhan menulis skenario yang sama dalam hidup gue seperti yang telah Ia tulis dalam hidup ibu. Dulu waktu ibu dan ayah menikah, mereka nggak saling mencintai. Sampai akhirnya, ibu berusaha mencintai ayah, karna memang udah jadi kewajibannya. Disaat ibu udah mencintai ayah dan udah memberikan SEGALANYA untuk ayah dan keluarga, ayah selingkuh dengan perempuan lain. Dan sepertinya, selama pernikahan mereka pun, ayah nggak pernah sungguh-sungguh mencintai ibu...
Hal itu juga yang terjadi dalam hidup gue. Waktu awal pacaran, gue nggak ada rasa apa-apa sama pacar gue. Hingga akhirnya lama-lama gue menyayangi dia. Dia pacar pertama gue, dan saat itu gue bener-bener ngerasa kalau dia adalah cowok yang sempurna dan sangat gue inginkan. Gue ngerasa sangat beruntung bisa memiliki dia. Gue percaya total sama dia dan seperti 'tergila-gila' sama dia. Gue memberi seluruh hati gue untuk dia tanpa ada rasa waspada kalau suatu saat dia bisa aja melukai gue. Dan ajaibnya, sikap dia ke gue juga sangat meyakinkan kalau dia emang sayang sama gue dan nggak ada perempuan lain di hatinya...
Lalu segalanya terbongkar. Setelah sepuluh bulan pacaran, akhirnya gue tau kalau selama sepuluh bulan itu pula dia masih mengharapkan mantannya. Semua sikap dia ke gue selama itu ternyata palsu. Di belakang gue, ternyata dia masih berharap untuk balikan lagi sama mantannya. Dia masih manggil mantannya dengan panggilan sayang waktu mereka masih pacaran, dan mantannya pun juga masih mengharapkan dia. Tapi sepertinya romansa mereka nggak bisa berlanjut karena pacar gue udah punya gue. Akhirnya mereka cuma bisa bermain di belakang gue...
Gue tau tentang itu semua beberapa hari sebelum gue tes SNMPTN. Gue bener-bener hancur, dan ngerasa udah jadi perempuan paling tolol di dunia. Gue ngerasa seperti udah nggak punya harga diri karna gue terlalu malu dengan diri gue sendiri yang bisa-bisanya dibodohi cowok itu. Gue frustasi. Sangat! Gue nggak habis fikir dia tega ngelakuin hal itu ke gue. Dia seringkali bilang gue polos. Awalnya gue fikir, dia akan menjaga gue karna sadar gue ini masih terlalu polos dan naif. Tapi ternyata, dia malah memanfaatkan kepolosan gue untuk ngebohongin dan khianatin gue...
Ajaibnya, gue masih mau aja kasih dia kesempatan kedua. Tapi, tanpa sedikitpun rasa percaya. Gue udah nggak bisa percaya lagi dan gue sangat sangat trauma. Sejak saat itu, tiap dia bersikap baik dan perhatian sama gue, hati gue dengan sendirinya menolak dan bilang: 'Jangan percaya. Bisa jadi ini cuma pura-pura lagi. Bisa jadi hati dia masih untuk orang lain!'
Selalu seperti itu, tanpa bisa gue cegah. Dia selalu marah karna gue nggak bisa percaya dia lagi dan ngerasa kalau trauma gue berlebihan. Gue nggak ngerti, sebenernya siapa yang salah? Dia yang ngebuat gue trauma, lalu dia juga yang marah kalau trauma itu nggak bisa hilang???
Sekarang gue mengerti apa yang dirasain ibu dulu. Gue paham kalau ibu sedemikian kecewa sama ayah dan sedemikian membenci perempuan itu. Gue yakin trauma ibu juga belum hilang dan mungkin nggak akan pernah bisa hilang. Dan gue kagum banget karna ibu masih bisa bertahan (nggak jadi gila atau bunuh diri). Kalau gue ada di posisi ibu, mungkin gue nggak bisa setegar itu. Paling nggak, mungkin gue bakal bunuh perempuan laknat itu. Sekarang aja, gue benci banget sama mantannya pacar gue itu dan berharap dia cepet mati. Hahahaaa...
Satu hal yang masih jadi tanda tanya buat gue. Orang-orang selalu bilang, bahwa setiap kita kehilangan sesuatu yang kita sayangi, suatu saat Tuhan pasti akan mengirimkan pengganti yang jauh lebih baik darinya. Tapi kenapa ibu nggak dapetin pengganti itu ya? Atau mungkin, pengganti itu nggak baik untuk gue dan adek-adek, makanya nggak dikasih sekarang?
Ah kalaupun ada, rasanya gue juga nggak bakal rela. Gue takut ibu bakal dikecewain lagi. Sejak saat itu gue jadi belajar, jangan pernah percaya sama laki-laki, sesempurna apapun mereka dari luar. Dari luar mungkin mereka terlihat tenang, alim, dan sempurna. Tapi dalamnya, mereka bisa lebih liar dari harimau dan lebih kejam dari algojo. Heheheee...
Untuk setiap perempuan, semoga Tuhan senantiasa memberikan pasangan yang terbaik untuk kalian. Yang menjaga kalian layaknya kalian adalah hal yang paling berharga. Dan menyayangi kalian seutuhnya tanpa ada celah sedikitpun untuk perempuan lain. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar