Rabu, 10 November 2010

Salah Satu Memori Indah Putih Abu-Abu






Aku ga bisa nemuin kata-kata lagi utk ngungkapin rasa terimakasihku yg sebegitu besar utk mereka, teman seangkatanku di OSIS 2009/2010. Dan aku juga ga bisa nemuin wujud rasa yg aku rasakan saat ini pada mereka. Lebih dari sekadar sayang, namun terlalu muluk untuk dikatakan cinta...

Masa satu tahun terasa begitu lama untuk mewujudkan proker, namun terlalu sebentar untuk sebuah kebersamaan indah. Aku tak ingin semuanya berakhir semudah menyerahkan bendera OSIS dari Wahid ke Novi dan sekilat dua jam upacara. Aku tak ingin berakhir, sama sekali tak ingin. Bukan tentang jabatan, tapi tentang kebersamaan kita.

Di luar OSIS, kita adalah pribadi dengan teman-teman dekat yang berbeda. Musuh dia adalah sahabatku dan musuhku adalah sahabatnya. So complicated. Namun di OSIS, kita adalah satu. Kita bisa curhat apa aja seolah kita adalah sahabat lama. Dan kita akan mencari solusinya sama-sama di ruang OSIS sambil makan siang di bawah AC. Ruang OSIS selayaknya rumah kedua kita karena begitu masuk, kita jadi malas pulang dan ingin berlama-lama disana. Bercanda, curhat tentang cinta, pelajaran, guru, impian di masa depan, even about sex. Sulit menerjemahkan hubungan kita sesungguhnya. Sahabatkah? Sepertinya bukan karena hampir sebagian dari kita berkeyakinan “friendship is nothing” dan kalaupun sahabat itu memang ada, kita telah memiliki sahabat masing-masing di luar OSIS. Jadi biarlah perasaan kita yang menerjemahkan hubungan kita sesungguhnya. Namun bagiku, mereka saudaraku...

Kita pernah bertengkar, menangis, mencaci, tertawa dan berpelukan. Merasakan pahitnya proposal ditolak, khawatir acara gagal, gerahnya dikritik guru, senangnya dapat sponsor dan kepuasan saat acara sukses lalu dapat kupon makan serta menikmatinya bersama. Hal itu tak dapat ditukar dengan apapun dan takkan pernah kita temukan dalam pelajaran eksakta maupun sosial. Guru takkan mampu mengajarkan kita hikmah dan kepuasan yang kita dapat dari situ. Hanya waktu dan kedewasaan satu sama lain yang mampu menjadikan kisah itu tak hanya sekadar indah, namun juga sarat pelajaran.

Terimakasih untuk mereka...
yang telah menerima kehadiranku apa adanya,
yang membantuku menyelesaikan masalah-masalahku,
yang memeluk dan merangkulku ketika aku berhasil maupun terjatuh,
dan yang telah memberikan memori-memori indah dalam ingatanku...


"Kita bukan berpisah, kita hanya terbatasi keadaan. Suatu saat batasan itu akan hilang dan kita bertemu kembali ketika mimpi itu telah menjadi sebuah realita. Karena kita adalah bagian dari rencana Tuhan yang indah..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar