Kevin baru saja pulang dari rumah Vanessa. Biasa lah, untuk melepas kangen. Soalnya mereka kan nggak satu sekolah dan jarak rumah mereka jauuuh banget. Jadi kalau ada kesempatan buat ketemu, lebih baik dimanfaatkan sebaik-baiknya. Seperti hari ini yang bertepatan juga dengan empat bulan mereka jadian.
Namun selepas Kevin pergi, sesuatu masih terasa mengganjal di fikiran Vanessa. Tadi gadis itu sempat buka-buka inbox HP Kevin dan menemukan beberapa SMS dari Vivian, mantannya Kevin. Nggak cuma itu, SMS yang udah lama banget pun masih disimpan dan nama kontak Vivian masih sama dengan saat mereka masih pacaran dulu. Setelah membacanya, Vanessa sempat merasa nggak enak, sedih dan ciut. Tapi ia berusaha menutupinya dan berusaha terlihat baik-baik saja di depan cowoknya itu. Sebenarnya ia ingin menyakan tentang hal-hal itu pada Kevin, tapi ia takut Kevin merasa bersalah dan bingung. Jadi dilupakannya keinginan itu dan ia langsung beralih pada laptop Compaq kesayangannya, dimana ia bisa curhat apa saja yang diinginkannya tanpa khawatir akan dibaca orang lain, seperti jika menulis di buku harian.
Jari-jarinya pun mulai menari di atas keyboard laptop, mengetikkan kalimat demi kalimat yang tak dapat terucap langsung dari bibirnya...
“Akhirnya aku tau kalo sebenernya kamu belum bisa bener-bener lupain dia. Inbox dari dia masih kamu simpan, nama kontaknya masih sama kayak pas kalian masih pacaran dan belakangan ini ternyata kamu smsan lagi sama dia. Perasaan aku waktu baca inbox-inbox dia buat kamu sama sekali nggak bisa terdeskripsi. Sedih, biasa aja, ngerasa dibohongin, lucu, bahkan ngerasa kalo aku ini bodoh. Tapi anehnya, aku nggak marah sama sekali. Aku nggak masalah kalo kamu masih sayang sama dia waktu awal-awal kita jadian, karena aku juga ngerasain hal yang sama. Aku masih sayang sama sahabatku saat itu dan aku ngerasa complicated banget karena kamu bukanlah orang yang aku sayang tapi justru kamu yang jadi pacar aku. Ya, posisi kita emang sama-sama tolol saat itu. Berani nembak dan nerima padahal cuma atas dasar suka dan rasa sayang kita masih untuk orang lain. Terrible!
Tapi sekarang, aku udah bener-bener sayang sama kamu. Jadi kalo hati kamu justru buat orang lain, aku nggak bisa stay cool aja. Well, aku nggak akan ngelabrak cewek itu atau kamu dan cuma mendam semuanya sendiri lalu nangis-nangis sendiri, tapi tetep aja intinya ‘you hurted me’. Dan aku bisa jadi sangat membenci kamu hanya karena hal itu.
Sekarang, aku jadi ngerasa ada di luar lingkaran kalian. Aku sadar, hati kamu sesungguhnya itu buat dia. Ibarat cerita di novel, kalian itu tokoh utamanya. Pacaran lama lalu putus, setelah itu kamu pacaran sama aku, si tokoh yang tiba-tiba muncul dan nggak diharapkan pembaca karena menghalangi kebersamaan si tokoh-tokoh utama. Hati dan sayang kamu yang sebenernya juga tetap buat dia walau kamu pacaran sama aku dan bilang sayang, bla bla bla. Dan seperti cerita di novel pula, pada akhirnya kalian akan bersatu lagi karena takdir dan hati kalian berkata demikian.
Aku nggak mau jadi tokoh yang nggak diinginkan itu. Andai aku lagi baca novel dengan kisah kayak gini, mungkin aku juga nggak suka sama tokoh aku dan berharap dia pergi dari cerita. Tapi kali ini, semuanya kenyataan. Aku bisa aja pergi dari cerita ini, tapi aku udah terlanjur sayang sama kamu. Aku nggak mungkin ngelukain perasaan aku sendiri untuk berkorban demi kalian. Mungkin keliatannya egois, tapi aku nggak mau ngelakuinnya karena dulu aku pernah ngelakuin itu dan rasanya sakit banget. Butuh waktu lama buat aku ngobatin rasa sakit itu dan butuh waktu dua tahun buat aku ngehapus rasa benci aku ke cowok itu.
Aku nggak tau harus gimana sekarang. Berjaga-jaga terhadap perasaanku sendiri? Suatu saat aku pasti akan lelah. Dan hari-hariku akan dipenuhi rasa khawatir kalo seandainya kamu balik lagi sama dia. Tapi aku juga nggak bisa ngelepas kamu karena aku sayang sama kamu.
Adakah pilihan lain yang lebih baik?”
Relung hati Vanessa pun tak dihinggapi perasaan lain selain keraguan dan sedikit ketakutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar