Senin, 22 November 2010

I MISS US


I miss us. I miss our togetherness. I miss OSIS room. I miss our laugh, our debate and all the time we’ve passed. I know time isn’t something you can make deal with it and togetherness doesn’t mean we have to always together all time. We already have our best friends and clique before we became so close like now. And I’m sure they also miss us if we leave them too long.
I won’t hope to get that time back cause I know life is a straight way and there’s no chance to turn back. We have our own life, friendship, stories and dreams. That’s why I just crying inside and can’t say anything. Cause all I want to say is just wanna be with all of you.
When we were outside, we’re just friend. There’re no chit chat, laugh, craziness, debates and just say ‘hello’ when we meet each other. We’re getting clumsy. But it doesn’t happen when we blended in OSIS room. We seemed like best friend and there’s no space between us.
I miss you, Guys. I hate looking our photos cause I’m gonna crying after that. But I don’t have other way to solve my feeling. I miss our laugh and togetherness more than everything…

“I try to put it in the past, hold on to myself and don’t look back. So let me go, let me fly away. Let me feel the space between us growing deeper. I don’t wanna dream about all the things that never were. Maybe I can live without when I’m out from under. I don’t wanna feel the pain. What good would it do me now? I’ll get it all figured out when I’m out from under...”
(Out From Under – Joanna Pacitti)

Minggu, 21 November 2010

Antara Kamu, Dia dan Aku


Kevin baru saja pulang dari rumah Vanessa. Biasa lah, untuk melepas kangen. Soalnya mereka kan nggak satu sekolah dan jarak rumah mereka jauuuh banget. Jadi kalau ada kesempatan buat ketemu, lebih baik dimanfaatkan sebaik-baiknya. Seperti hari ini yang bertepatan juga dengan empat bulan mereka jadian.
Namun selepas Kevin pergi, sesuatu masih terasa mengganjal di fikiran Vanessa. Tadi gadis itu sempat buka-buka inbox HP Kevin dan menemukan beberapa SMS dari Vivian, mantannya Kevin. Nggak cuma itu, SMS yang udah lama banget pun masih disimpan dan nama kontak Vivian masih sama dengan saat mereka masih pacaran dulu. Setelah membacanya, Vanessa sempat merasa nggak enak, sedih dan ciut. Tapi ia berusaha menutupinya dan berusaha terlihat baik-baik saja di depan cowoknya itu. Sebenarnya ia ingin menyakan tentang hal-hal itu pada Kevin, tapi ia takut Kevin merasa bersalah dan bingung. Jadi dilupakannya keinginan itu dan ia langsung beralih pada laptop Compaq kesayangannya, dimana ia bisa curhat apa saja yang diinginkannya tanpa khawatir akan dibaca orang lain, seperti jika menulis di buku harian.
Jari-jarinya pun mulai menari di atas keyboard laptop, mengetikkan kalimat demi kalimat yang tak dapat terucap langsung dari bibirnya...

“Akhirnya aku tau kalo sebenernya kamu belum bisa bener-bener lupain dia. Inbox dari dia masih kamu simpan, nama kontaknya masih sama kayak pas kalian masih pacaran dan belakangan ini ternyata kamu smsan lagi sama dia. Perasaan aku waktu baca inbox-inbox dia buat kamu sama sekali nggak bisa terdeskripsi.  Sedih, biasa aja, ngerasa dibohongin, lucu, bahkan ngerasa kalo aku ini bodoh. Tapi anehnya, aku nggak marah sama sekali. Aku nggak masalah kalo kamu masih sayang sama dia waktu awal-awal kita jadian, karena aku juga ngerasain hal yang sama. Aku masih sayang sama sahabatku saat itu dan aku ngerasa complicated banget karena kamu bukanlah orang yang aku sayang tapi justru kamu yang jadi pacar aku. Ya, posisi kita emang sama-sama tolol saat itu. Berani nembak dan nerima padahal cuma atas dasar suka dan rasa sayang kita masih untuk orang lain. Terrible!
Tapi sekarang, aku udah bener-bener sayang sama kamu. Jadi kalo hati kamu justru buat orang lain, aku nggak bisa stay cool aja. Well, aku nggak akan ngelabrak cewek itu atau kamu dan cuma mendam semuanya sendiri lalu nangis-nangis sendiri, tapi tetep aja intinya ‘you hurted me’. Dan aku bisa jadi sangat membenci kamu hanya karena hal itu.
 Sekarang, aku jadi ngerasa ada di luar lingkaran kalian. Aku sadar, hati kamu sesungguhnya itu buat dia. Ibarat cerita di novel, kalian itu tokoh utamanya. Pacaran lama lalu putus, setelah itu kamu pacaran sama aku, si tokoh yang tiba-tiba muncul dan nggak diharapkan pembaca karena menghalangi kebersamaan si tokoh-tokoh utama. Hati dan sayang kamu yang sebenernya juga tetap buat dia walau kamu pacaran sama aku dan bilang sayang, bla bla bla. Dan seperti cerita di novel pula, pada akhirnya kalian akan bersatu lagi karena takdir dan hati kalian berkata demikian.
Aku nggak mau jadi tokoh yang nggak diinginkan itu. Andai aku lagi baca novel dengan kisah kayak gini, mungkin aku juga nggak suka sama tokoh aku dan berharap dia pergi dari cerita. Tapi kali ini, semuanya kenyataan. Aku bisa aja pergi dari cerita ini, tapi aku udah terlanjur sayang sama kamu. Aku nggak mungkin ngelukain perasaan aku sendiri untuk berkorban demi kalian. Mungkin keliatannya egois, tapi aku nggak mau ngelakuinnya karena dulu aku pernah ngelakuin itu dan rasanya sakit banget. Butuh waktu lama buat aku ngobatin rasa sakit itu dan butuh waktu dua tahun buat aku ngehapus rasa benci aku ke cowok itu.
Aku nggak tau harus gimana sekarang. Berjaga-jaga terhadap perasaanku sendiri? Suatu saat aku pasti akan lelah. Dan hari-hariku akan dipenuhi rasa khawatir kalo seandainya kamu balik lagi sama dia. Tapi aku juga nggak bisa ngelepas kamu karena aku sayang sama kamu.
Adakah pilihan lain yang lebih baik?”

Relung hati Vanessa pun tak dihinggapi perasaan lain selain keraguan dan sedikit ketakutan.

Rabu, 10 November 2010

Bondan - Kita Selamanya

Detak detik tirai mulai menutup panggung
Tanda skenario baru mulai diusung
Lembaran kertas barupun mulai terbuka
Tinggalkan yang lama
Biarkan sang pena berlaga
Kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu, pernah juga hilang atau taakan pernah berlalu
Masa jaya putih abu abu, memori cerita cinta aku, dia dan kamu

Saat dia masuki alam pikiran,
Ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan cinta masa sekolah yang pernah terjadi
Kita membumi, melangkah berdua
Kita ciptakan hangat sebuah cerita
Mulai dewasa, cemburu dan bungah
fFnally now, its our time to make a history

Bergegaslah kawaan, tuk sambut masa depan
Tetap berpegang tangan, saling berpelukan
Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan
Kenanglah sahabat kita tuk slamanya!
Satu alasan kenapa kau ku rekam dalam memori
Satu cerita teringat dalam hati
Karena kau berharga dalam hidupku, teman
Untuk satu pijakan menuju masa depan

Saat duka bersama, tawa bersama
Berpacu dalam prestasi
Hal yang biasa satu persatu memori terekam
Di dalam api semangat yang tak mudah padam
Ku yakin kau pasti sama dengan diriku
Pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
Kawan.. kau tahu? kawan kau tahu kan?
Beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan

Salah Satu Memori Indah Putih Abu-Abu






Aku ga bisa nemuin kata-kata lagi utk ngungkapin rasa terimakasihku yg sebegitu besar utk mereka, teman seangkatanku di OSIS 2009/2010. Dan aku juga ga bisa nemuin wujud rasa yg aku rasakan saat ini pada mereka. Lebih dari sekadar sayang, namun terlalu muluk untuk dikatakan cinta...

Masa satu tahun terasa begitu lama untuk mewujudkan proker, namun terlalu sebentar untuk sebuah kebersamaan indah. Aku tak ingin semuanya berakhir semudah menyerahkan bendera OSIS dari Wahid ke Novi dan sekilat dua jam upacara. Aku tak ingin berakhir, sama sekali tak ingin. Bukan tentang jabatan, tapi tentang kebersamaan kita.

Di luar OSIS, kita adalah pribadi dengan teman-teman dekat yang berbeda. Musuh dia adalah sahabatku dan musuhku adalah sahabatnya. So complicated. Namun di OSIS, kita adalah satu. Kita bisa curhat apa aja seolah kita adalah sahabat lama. Dan kita akan mencari solusinya sama-sama di ruang OSIS sambil makan siang di bawah AC. Ruang OSIS selayaknya rumah kedua kita karena begitu masuk, kita jadi malas pulang dan ingin berlama-lama disana. Bercanda, curhat tentang cinta, pelajaran, guru, impian di masa depan, even about sex. Sulit menerjemahkan hubungan kita sesungguhnya. Sahabatkah? Sepertinya bukan karena hampir sebagian dari kita berkeyakinan “friendship is nothing” dan kalaupun sahabat itu memang ada, kita telah memiliki sahabat masing-masing di luar OSIS. Jadi biarlah perasaan kita yang menerjemahkan hubungan kita sesungguhnya. Namun bagiku, mereka saudaraku...

Kita pernah bertengkar, menangis, mencaci, tertawa dan berpelukan. Merasakan pahitnya proposal ditolak, khawatir acara gagal, gerahnya dikritik guru, senangnya dapat sponsor dan kepuasan saat acara sukses lalu dapat kupon makan serta menikmatinya bersama. Hal itu tak dapat ditukar dengan apapun dan takkan pernah kita temukan dalam pelajaran eksakta maupun sosial. Guru takkan mampu mengajarkan kita hikmah dan kepuasan yang kita dapat dari situ. Hanya waktu dan kedewasaan satu sama lain yang mampu menjadikan kisah itu tak hanya sekadar indah, namun juga sarat pelajaran.

Terimakasih untuk mereka...
yang telah menerima kehadiranku apa adanya,
yang membantuku menyelesaikan masalah-masalahku,
yang memeluk dan merangkulku ketika aku berhasil maupun terjatuh,
dan yang telah memberikan memori-memori indah dalam ingatanku...


"Kita bukan berpisah, kita hanya terbatasi keadaan. Suatu saat batasan itu akan hilang dan kita bertemu kembali ketika mimpi itu telah menjadi sebuah realita. Karena kita adalah bagian dari rencana Tuhan yang indah..."

Selasa, 02 November 2010

Arti Bintang Untukku



Bintang...
Banyak orang menganggapnya hanyalah keindahan sesaat atau pemberi harapan kosong. Sebab meski bentuknya indah, tapi terkadang ia tenggelam dalam malam dan tak selalu ada. Kalaupun ada dan wujudnya jelas terjangkau pandangan, ia layaknya lukisan antik yang tak bisa disentuh dan hanya bisa dipandang dari jauh.


Tapi aku justru melihat dari sisi sebaliknya. Setiap melihat bintang, aku jadi lebih tenang dan tak pernah merasa kesepian. Aku yakin pasti ada seseorang disana yang selalu ada untukku dan mengawasiku meski ia jauh dan tak terjangkau olehku. Yaa... seperti bintang! Mungkin bintang tak bisa melakukan apa-apa selain memberikan cahayanya, karena memang itulah satu-satunya hal yang dapat ia lakukan. Dan meski manusia tak pernah peduli akan hal itu, bintang tetap memberikan cahayanya yang merupakan anugerah dari Tuhan. Bintang juga tak peduli dengan pendapat manusia tentang mereka karena jumlah mereka terlalu banyak dan tak mungkin semuanya mendapat perhatian yang sama dari manusia.
Tentu saja, karena manusia hanya peduli dengan bintang yang terindah dan yang paling terang cahayanya...




*Untuk seseorang di sana, bagiku keberadaanmu seperti bintang. Meski jauh, tapi aku tau kamu ada untukku dan membuatku tenang. Makasih buat boneka kucingnya. Karena alasan inilah aku juga menamainya Bintang...*

Seseorang Yang Ku Sebut 'Aku'


Aku adalah hidupku.
Tak terdefinisi, apalagi terdeskripsi.
Sebagiannya adalah klise harapanku
yang terlalu membumbung tinggi
hingga tak dapat ku raih.

Aku adalah pribadiku.
Tak terbaca, ataupun terlukis.
Juga tak terpahami.
Bahkan oleh pahamku sendiri.

Aku adalah jalanku.
Terbentang dalam batas fikiranku.
Terbatasi oleh ruangku.
Berkelana mencari arti diriku
yang tak kutemukan
dalam kisahku…


“Ini adalah lukisan seseorang yg gak bisa mengenali dirinya. Dia gak pernah mengerti dirinya sendiri. Apa kemauannya, apa cita-citanya, apa harapannya, bahkan bagaimana sosok ia sebenarnya. Terlalu banyak bentuk jati diri yg ditemukannya, sehingga ia tak tau lagi harus menjadi seperti apa. Yg dapat dilakukannya hanya menjalani hari sesuai feeling dan mood, sehingga tak pernah menjadi seseorang yg berkarakter pasti dan labil. Terkadang fikirannya hambar, tatapannya kosong. Emosinya bahkan tak pernah stabil…
Kenapa ada orang kayak gitu? Dan sialnya, kenapa orang itu gue? L

Untuk Seseorang Di Sana

Kutulis ini untuk seseorang di sana, yang tengah berusaha menggapai mimpinya. Seseorang yang pernah ku sayangi dan ku panggil 'kakak'...


Kakak,
aku nggak tau kenapa belakangan ini aku terus kepikiran kakak. Padahal aku hampir nggak pernah ngelakuin hal itu sejak aku memutus hubungan kita tanggal 26 Juli 2009 dulu. SMS terakhir dari kakak aku terima pas tanggal 9 Desember 2009. Kakak muncul hanya untuk beberapa menit, membuatku bermain dengan fantasiku sesaat lalu kembali terhempas pada realita yang tak ingin aku terima: bahwa kita bukanlah kakak-adik lagi.


Aku ingat isi SMS terakhir kakak saat itu:
"Sebenernya kakak kecewa sama kamu waktu kamu kirim message ke FB kakak waktu itu, tapi nggak apa-apa kok. Dek, mungkin ini SMS terakhir kakak ke kamu. Kamu baik-baik ya dek. Kakak minta maaf. Kakak sayang kamu..."
Dan itu sungguh jadi SMS terakhir karena setelah aku balas pun, kakak nggak membalasnya lagi. Selama hari itu hingga beberapa hari kemudian aku terus-terusan nangis, berharap kakak mau balas SMS-ku dan kita bisa jadi kakak-adik lagi. Tangisanku saat itu lebih berarah pada penyesalan karena kebodohanku yang memutuskan hubungan kita secara sepihak hanya karena emosi. Aku sangat menyesal. Dan meski ku tau penyesalan itu tak pernah berarti, hal itu masih kurasakan hingga saat ini.


Aku bersyukur Tuhan masih mengizinkan aku ketemu kakak tanggal 6 Maret 2010 lalu. Walau hanya sesaat dan kita tak terlibat pembicaraan apapun, tapi aku senang. Hujan pun kembali menyertai hari itu, sama seperti waktu aku pertama kali ketemu kakak di tanggal 7 Maret 2009.


Sejak saat itu hingga hari ini, aku nggak pernah ketemu kakak lagi. Aku cuma bisa tau kabar kakak lewat FB. Tapi aku nggak bisa kirim wall atau pesan apapun karena aku tau pacar kakak akan cemburu.
Sekarang kakak lagi ikut pendidikan militer kan? Untuk meraih apa yang kakak cita-citakan, jadi Angkatan Laut. Kakak tau nggak? Pacar kakak kangen banget sama kakak. Aku mau coba hibur tapi nggak tau gimana caranya. Maaf ya kak.


Dan sekarang kerinduan itu merayapi aku juga. Aku kangen banget sama kakak. Akhir-akhir ini aku selalu curhat tentang kakak sama boneka kucingku, namanya Bintang. Kadang sampai nangis. Mungkin karena aku masih belum bisa memaafkan kesalahanku sendiri dan aku nggak tau apa yang bisa aku lakukan untuk menebus rasa sesal itu.


Kakak, cepat pulang ya. Meski kita nggak akan jadi kakak-adik lagi pas kakak pulang nanti, tapi setidaknya pacar kakak nggak akan nangis karena kangen sama kakak lagi. Aku kasihan setiap baca status dan wall-nya untuk kakak. Makanya, kakak harus berusaha keras ya di sana. Jadi orang sukses, terus pulang dalam keadaan berpangkat. Pasti keren deh. Walau aku nggak bisa liat, tapi aku kan masih bisa berimajinasi. Heheee...


Semoga sukses kak. Baik-baik ya di sana. Aku turut berdoa untuk kakak.
Adek sayang kakak...

Fikiranku

Andai kita mau meluangkan sedikit waktu untuk berfikir tentang kehidupan ini atau paling tidak berfikir tentang masalah-masalah sederhana yang kita hadapi, mungkin takkan pernah ada cukup waktu untuk kita menemukan titik temu.

Sisi-sisi kehidupan sesungguhnya layaknya lingkaran. Dari sisi manapun kau melihat, kau tetap dapat menjangkau titik pusat dengan bentuk pandangan yang sama dengan sisi lain. Sesuatu yang dinilai salah, dapat menjadi benar andaikata kau melihat dari sisi yang lain. Juga sebaliknya. Sesuatu yang mungkin kita fikir salah, dapat menjadi suatu kebenaran jika dilihat dari sudut pandang yang lain.

Memang rasanya terlalu menjelimet, tapi kalau difikir-fikir sepertinya sangat tidak adil jika kita melihat sesuatu hanya dari satu sisi. Seperti saat kita menghakimi seseorang hanya karena menurut kita ia salah. Berfikir dan berimajinasilah andai kita jadi dia. Mungkin saja kita akan melakukan hal yang sama atau mungkin lebih parah.

Kita tak pernah tau atau lebih tepatnya tak pernah mau tau alasan dari tiap tindakan yang dilakukan seseorang. Padahal yang semestinya kita lihat adalah alasan, bukan tindakan. Karena tindakan hanya bentuk ekspresi seseorang. Dan tentunya, setiap orang memiliki wujud berekspresi yang beda-beda.

Berfikirlah kehidupan ini layaknya kubus yang memiliki banyak sisi dan bidang, bukan seperti persegi yang hanya memiliki empat sisi dan satu bidang.