Aku frustasi. Gila? Benar. Kalian boleh sebut aku begitu. Karena yang kurasakan justru lebih dari itu. Lebih dari sekadar jenuh, galau, stres, frustasi, atau gila. Aku hilang arah, hilang kendali. Aku tak dapat menemukan diriku yang sesungguhnya berkat pelajaran-pelajaran gila itu. Bukan, ini bukan salah guru-guru eksaktaku karena mereka tak pernah memaksaku bergabung dalam pelajaran mereka apalagi mencintai angka-angka dan simbol-simbol berusia ratusan tahun yang tak pernah berevolusi dari zaman ke zaman itu. Yang tolol adalah aku. Aku memaksa diriku mempelajarinya, padahal aku tidak pernah menyukainya.
Baiklah, mungkin prestasiku selalu baik di masa putih-merah dan putih-biru. Anak baik yang sopan dan penurut, dengan prestasi yang tak pernah keluar dari peringkat tiga besar. Jauh berbeda dengan sosok putih abu-abuku. Si pemberontak yang malas dan tak tahu diri, dengan prestasi yang selalu diluar peringkat lima besar. Yang hanya bisa menguras uang orangtua, tanpa memberikan sesuatu yang dapat dibanggakan.
Orangtuaku tahu betul kalau kemampuan maksimalku adalah dalam bidang hafalan. Tapi kenapa mereka memaksaku masuk eksakta? Apakah hanya karena mereka juga berasal dari bidang yang sama? Atau karena gengsi dengan imej anak sosial yang mayoritas dinilai tidak lebih baik dari anak eksakta? Atau karena mereka ingin meneruskan cita-cita mereka di jalanku???
Mereka tidak pernah tahu kalau aku nyaris gila saat bertemu soal yang melibatkan hitung-hitungan. Mereka tidak pernah tahu kalau aku sudah sangat mencapai titik jenuh. Mereka menyuruhku belajar, tapi mereka tidak pernah mau tahu alasan kenapa aku selalu enggan melakukan hal itu. Haruskah aku teriakkan??? AKU BENCI MATEMATIKA, FISIKA DAN KIMIA!!! AKU BENCI MENGHITUNG HAL-HAL YANG AKU SENDIRI TIDAK TAHU APA GUNANYA!!!
Mungkin ada satu pelajaran yang hilang dari ikatan eksak sejati itu. Ya, Biologi. Aku tidak menyebutkannya karena sebenarnya aku mampu menguasainya asalkan aku niat. Dan mungkin, aku menyukainya. Alasannya? Ya, karena Biologi adalah hafalan. Dan Biologi adalah ilmu yang tidak sia-sia dipelajari karena membahas tentang tubuh dan lingkungan kita sendiri. Justru akan menambah banyak wawasan kita tentang hal-hal yang selama ini tidak kita sadari.
Kalian tahu? Sekitar dua atau tiga bulan lagi aku akan bertemu si momok menakutkan bagi para pelajar grade akhir. Ya, Ujian Nasional. Dan bodohnya, aku belum menyiapkan apa-apa untuk bertarung melawannya. Aku justru sibuk dengan diriku yang kacau dan otakku yang mau meledak karena sudah berada dalam titik terjenuh. Bahkan sampai sekarang pun aku masih belum tahu akan melanjutkan ke mana dan jurusan apa. I totally lost my way!
Aku merindukan hari libur. Bukan sekadar hari Minggu, tapi liburan panjang dimana aku bisa terbebas dari angka-angka dan masuk di duniaku yang semestinya, tulis-menulis. Aku ingin mengosongkan otakku dari rumus-rumus dan mengisinya dengan imajinasi-imajinasi lalu menuangkannya lewat kata-kata dalam sebuah alur cerita. Aku ingin membebaskan fikiran dan imajinasiku, bukan mengekangnya dengan batasan-batasan rumus pasti yang tidak dapat direka-reka karena memang begitu seharusnya.
Aku berusaha menyempatkan diri untuk melanjutkan cerpenku ketika pulang sekolah atau saat malam hari. Namun yang kulakukan justru hanya memutar musik. Aku tidak tahu apa yang ingin kutulis karena otakku tak mempunyai ruang lagi untuk berkhayal dan memilih diksi. Semuanya berjejal di fikiranku layaknya rak buku kecil yang terus dimasukkan buku-buku hingga semuanya tercampur jadi satu tanpa bisa dikelompokkan lagi.
Kalian boleh sebut aku terlalu mendramatisir, karena aku tahu banyak siswa lain yang pastinya jauh lebih lelah daripada aku. Berangkat pagi pulang sore, belum lagi les ini-itu hingga nyaris tengah malam. Aku tahu betul itu. Tapi ingat, mereka tetap semangat melakukan hal itu karena mereka berada di bidang yang mereka sukai, tempat dimana mereka seharusnya berada. Tapi aku tidak! Aku berada di luar duniaku, di bidang yang justru merupakan kelemahanku! Dan aku malah tidak punya waktu untuk berkembang dalam bidang yang menjadi kelebihanku! Bukankah itu konyol??!
Waktu terus berlalu. Bangun tidur, berangkat sekolah, pulang sore, makan, tidur, bangun tengah malam sampai pagi atau tidur lagi, lalu bangun dan bersiap ke sekolah lagi. Terus begitu selama seratus empat puluh empat jam dan hanya ada dua puluh empat jam untuk rehat sesaat. Setiap hari yang selalu kudengar hanyalah: UN makin dekat, UN makin dekat. Padahal yang seharusnya tiap hari dipikirkan adalah kematian yang makin dekat. Aktifitas yang itu-itu saja dan waktu yang berlalu cepat membuatku takut kalau tiba-tiba kematian menghampiriku padahal aku belum mempunyai persiapan apa-apa atau bahkan aku tidak sempat menyadari bahwa tiap detik aku kian menua.
Aku butuh seseorang. Yang bisa menjernihkan fikiranku saat ini, yang bisa membebaskanku dari kekangan ini, yang bisa membantuku memilih universitas dan jurusan yang tepat, yang tidak menghakimi tapi mengajari aku tentang bagaimana seharusnya hidup.
Yang pasti, orang itu bukanlah orangtuaku. Karena mereka bahkan tidak pernah mengerti aku dan selalu memaksakan kehendak mereka padaku. Mereka selalu merasa paling benar dalam hal apapun, seolah lupa bahwa mereka juga manusia yang penuh alfa dan bahwa setiap keputusan harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Terlebih jika pemikiran atau keputusan itu menyangkut orang lain. Bahkan mereka tidak pernah memberi kesempatan aku dan adik-adikku refreshing! Apa mereka lupa kalau kami manusia? Apa mereka lupa kalau kami punya titik jenuh dan batas kesabaran? Dan apakah harus aku teriakkan itu semua, yang seharusnya mereka sadari karena mereka adalah “orang dewasa”???
When will you understand me, Mom & Dad?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar